Suku bunga rendah bisa kurangi minat perusahaan untuk IPO, berikut penjelasan analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Capaian cemerlang berhasil ditorehkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun lalu. Di tengah pandemi, BEI tercatat kedatangan 51 emiten baru lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Capaian ini hanya selisih empat emiten dari total IPO yang terjadi di BEI sepanjang 2019.

Meski marak di tahun lalu, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, tren IPO dengan tujuan pendanaan kemungkinan bisa menurun di tahun ini. Hal ini seiring dengan tren pemangkasan suku bunga (era suku bunga rendah).

“Bukan tidak mungkin ke depannya bunga kredit ikut turun, sehingga minat pendanaan melalui IPO jadi berkurang,” ungkap William kepada Kontan.co.id, Senin (4/1). 


Minat IPO cenderung  bisa  menurun karena suku bunga saat ini cukup rendah sehingga memungkinkan perusahaan untuk mengambil kredit guna kebutuhan pendanaan ketimbang harus melepas sahamnya ke publik (IPO).

Sepanjang 2020, Bank Indonesia cukup getol dalam memangkas suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRR). 

Baca Juga: Akan melantai di bursa, DCI Indonesia gunakan kode saham DCII

Catatan Kontan.co.id, bank sentral pertama kali menurunkan suku bunga pada 20 Februari 2020. Kala itu, BI menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis points (bps)  menjadi 4,75%, dari sebelumnya di level 5%.

Hingga Desember 2020, suku bunga BI berada di level 3,75%. Ini berarti, dalam setahun BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin.

Prospek saham IPO

Di sisi lain, sejumlah saham pendatang baru mengalami pergerakan yang cukup volatil. Ambil contoh saham PT Soho Global Health Tbk (SOHO). Saham yang listing pada 8 September 2020 ini harganya sempat terbang ke level Rp 13.600, berkali-kali lipat dari harga IPO-nya yang hanya Rp 1.820.

Sebaliknya, ada pula saham pendatang baru yang kurang mujur, salah satunya adalah PT Morenzo Abadi Perkasa Tbk (ENZO). Saat pencatatan perdana pada 14 September 2020, saham ENZO masih berada di level Rp 141. 

Namun saat ini, saham emiten pengolahan daging rajungan dan makanan beku tersebut sudah mengendap di zona gocap (Rp 50).

William lebih menyarankan pelaku pasar ke saham-saham yang sudah jelas track record-nya, baik secara fundamental maupun teknikal. Hal ini agar memunculkan perasaan yang lebih tenang saat investor menggenggam saham tersebut karena analisisnya yang sudah cukup mantap.

“Ikut saham IPO sesekali tidak apa-apa, tetapi harus sadar bahwa risikonya tinggi,” sambung dia.

Investor bisa mencermati saham consumer dan telekomunikasi. Namun, saham consumer saat ini dinilai masih downtrend. Oleh karena itu, sebaiknya pelaku pasar menjadikannya sebagai watch list terlebih dulu. Baru setelah ada pembalikan arah, investor bisa membeli saham di sektor ini.

Adapun saham-saham pilihan William di sektor ini di antaranya PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Sementara untuk sektor telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) bisa menjadi pilihan investor.   

Selanjutnya: Perdana melantai di BEI, harga saham FAP Agri (FAPA) naik 25%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi