Suku Bunga Tinggi Bayangi Emiten Infrastruktur, Cek Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten sektor infrastruktur menghadapi tantangan seiring tingginya tingkat suku bunga. Kenaikan biaya pendanaan berpotensi menekan laba perusahaan, terutama bagi emiten yang memiliki tingkat utang tinggi dan membutuhkan belanja modal besar.

Asal tahu saja, The Fed menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75%–4,00%.

Kenaikan Fed Rate ini membuat Bank Indonesia (BI) diproyeksikan ikut menaikkan suku bunga di bulan September 2026. Sebagai gambaran, suku bunga BI ada di level 5,75% pada Agustus.


Kondisi tersebut membuat sejumlah emiten infrastruktur menyiapkan strategi untuk menjaga kinerja keuangan di tengah lingkungan suku bunga tinggi.

Salah satunya PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Perseroan melihat dinamika suku bunga sebagai bagian dari kondisi makroekonomi yang perlu dikelola secara prudent.

Baca Juga: The Fed Naikkan Bunga, Ini Peluang Saham AS di Sektor AI dan Teknologi

Head External Communications EXCL, Henry Wijayanto mengatakan, XLSMART memiliki posisi likuiditas dan arus kas yang memadai, serta terus mengoptimalkan struktur pendanaan dan profil jatuh tempo utang.

“Di sisi operasional, realisasi sinergi merger dan network optimization juga terus memperkuat efisiensi dan cash flow perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Henry bilang, EXCL akan tetap fokus pada disiplin alokasi modal, efisiensi biaya, dan realisasi sinergi merger. Investasi kami prioritaskan pada area atau wilayah-wilayah yang mendukung pertumbuhan jangka panjang, termasuk kualitas jaringan dan ekspansi 5G.

“Untuk 2026, perseroan juga tetap berfokus pada panduan (guidance) yang telah disampaikan dan akan terus memonitor perkembangan kondisi makro secara prudent,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan KONTAN, EXCL meningkatkan panduan capitalized capital expenditure (capex) 2026 menjadi Rp20 triliun dari sebelumnya Rp15 triliun.

Tambahan investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat infrastruktur jaringan, memperluas layanan 5G, serta mengoptimalkan pemanfaatan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.

Di sisa 2026 hingga tahun 2027, EXCL melihat prospek industri telekomunikasi tetap positif, didukung oleh pertumbuhan konsumsi data dan kebutuhan konektivitas.

“Fokus EXCL ke depan adalah mengoptimalkan skala dan aset pasca-merger untuk menjadi pertumbuhan yang lebih sehat dan efisien, termasuk melalui monetisasi jaringan dan spektrum serta realisasi sinergi,” katanya.

Baca Juga: BEI Siapkan Daftar Saham untuk Short Selling, Hanya 3-5 Emiten pada Tahap Awal

Dampak Suku Bunga Tinggi ke Emiten Infrastruktur

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, era suku bunga tinggi berdampak signifikan ke kinerja emiten infrastruktur lantaran sektor ini sangat bergantung dengan utang untuk operasional alias leverage heavy.

Kenaikan suku bunga akan mengerek beban bunga dan langsung tekan bottom line untuk emiten dengan utang floating rate. Di sisi lain, beban biaya operasional (cost of capital) proyek baru naik, sehingga internal rate of return (IRR) lebih sulit dipenuhi.

Ada beberapa subsektor yang paling terdampak. Subsektor jalan tol, seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tertekan lantaran capital intensive dengan payback panjang. Lalu, subsektor menara telekomunikasi, seperti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Mitratel Tbk (MTEL) juga terdampak lantaran punya beban utang tinggi.

Sementara, subsektor telekomunikasi (telco) terintegrasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) bisa lebih defensif karena arus kas operasional kuat porsi utang lebih terkendali.

“Cara antisipasi menjaga kinerja emiten saat ini adalah refinancing ke tenor lebih panjang selagi bisa, konversi ke fixed rate, dan disiplin prioritas capital expenditure (capex) ke proyek IRR tertinggi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kenaikan suku bunga langsung menaikkan beban bunga utang dan menekan valuasi discounted cash flow (DCF) based.

Subsektor tol paling merasakan dampak karena beban besar untuk ruas baru, disusul telco dengan capex 5G dan energi baru terbarukan (EBT) yang arus kasnya sensitif terhadap discount rate.

“Strategi antisipasi untuk emiten bisa diversifikasi pendanaan lewat obligasi domestik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.

Prospek Emiten Infrastruktur 2026-2027

Di akhir 2026 hingga tahun 2027 diproyeksikan masih berat untuk sektor infrastruktur.

Wafi melihat, pemberat dominan berasal dari proyeksi dot plot The Fed yang menunjukkan kenaikan suku bunga sekali lagi di tahun ini dan level yang masih tinggi hingga 2027. Alhasil, ruang BI untuk memangkas suku bunga menjadi sangat terbatas.

Baca Juga: Saham Dana Brata (TEBE) Naik 21,99% Sepekan, Direkturnya Malah Jual Seluruh Saham

Sentimen pendorong yang tersisa adalah proyek strategis pemerintah jika realisasi belanja membaik dan tren proyek data center sebagai sumber permintaan baru.

Ke depan, subsektor yang masih unggul adalah telco dengan transformasi data center dan modal business to business (B2B) digital lantaran pertumbuhannya yang tidak sepenuhnya bergantung beban pembiayaan baru.

Emiten jawara menurut Wafi ke depannya adalah TLKM, karena perseroan punya NeutraDC yang sudah teken kontrak ditambah kemampuan unlock value lewat divestasi strategis.

“JSMR, MTEL, dan TOWR juga perlu dicermati dengan lebih hati-hati, karena leverage jadi beban nyata,” katanya.

Abida menambahkan, sentimen pendorong untuk sektor infrastruktur adalah kontribusi penuh kenaikan tarif tol, monetisasi aset telko lewat FiberCo dan InfraCo, dan pipeline kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) sebesar Rp124 triliun.

Sementara, sentimen pemberat berasal dari beban bunga makin berat, pelemahan rupiah menaikkan biaya utang dolar, dan efisiensi belanja pemerintah.

Subsektor telko juga diproyeksikan Abida paling unggul karena sudah masuk fase monetisasi yang mengurangi ketergantungan pendanaan eksternal.

TLKM dan PT Indosat Tbk (ISAT) pun dilihat sebagai jawara berkat model bisnis lebih asset-light.

Untuk TLKM, katalisnya berasal dari monetisasi InfraCo dan buyback yang mengurangi eksposur suku bunga. “Sementara, untuk ISAT katalisnya adalah FiberCo listing yang memperkuat neraca,” tuturnya.

Abida pun merekomendasikan beli untuk TLKM dan ISAT dengan target harga masing-masing Rp3.750 per saham dan Rp3.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: