Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Lesu, Simak Prospek Emiten Konstruksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten konstruksi dinilai masih tertekan di tengah tantangan era suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah.

Rupiah di pasar spot ditutup di Rp 17.860 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (12/6/2026), menguat 0,72% dari penutupan hari sebelumnya. Pekan ini BI juga kembali menaikkan kembali suku bunga menjadi 5,5%.

Sejumlah emiten konstruksi mengaku menyiapkan sejumlah strategi di tengah tantangan ini. Corporate Secretary PT PP Tbk (PTPP), Joko Raharjo mengatakan, pihaknya terus memperkuat pengelolaan arus kas melalui percepatan penagihan piutang, selektif dalam memilih proyek yang memiliki cash flow sehat, mengoptimalkan klausul eskalasi harga, serta melakukan efisiensi dan pengelolaan utang agar tekanan terhadap profitabilitas dapat diminimalisir.


PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melihat bahwa peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) saat ini tidak berdampak langsung terhadap kinerja perseroan. Sebab, dalam masa restrukturisasi ini WIKA tidak dalam posisi untuk mencari sumber pendanaan baru. 

Baca Juga: Emiten Konstruksi Bukukan Kinerja Beragam, Simak Rekomendasi Analis

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin alias Emin mengatakan, beban utang perseroan saat ini juga tengah dalam masa restrukturisasi juga tidak terkena dampak floating atas kenaikan suku bunga.

Ke depan, WIKA terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan harga energi global yang berpotensi memengaruhi biaya proyek, khususnya pada komponen energi, logistik, material industri, dan peralatan konstruksi. 

“Untuk mengantisipasi hal tersebut, WIKA menerapkan berbagai langkah mitigasi risiko, antara lain melalui efisiensi operasional, pengendalian biaya, optimalisasi arus kas, serta penguatan manajemen risiko pada proyek-proyek yang dikelola,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.

Sementara, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) tetap fokus pada efisiensi, seleksi proyek yang prudent, dan pengelolaan risiko operasional. 

Corporate Secretary TOTL, Anggie S. Sidharta mengatakan, perseroan juga relatif tidak memiliki eksposur signifikan terhadap pinjaman berbunga, sehingga dampak kenaikan suku bunga tidak material. 

“Target kinerja 2026 masih mengacu pada rencana awal dengan pemantauan berkala sesuai kondisi pasar,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi mengatakan, sentimen pemberat utama kinerja emiten konstruksi di tahun ini datang dari pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.900 yang mengerek biaya material impor dan beban utang dolar AS.

Baca Juga: Harga 200-an, Ini Saham Emiten Konstruksi Pelat Merah yang Layak Dibeli

“Lalu juga BI Rate yang tinggi menggerus margin dan menaikkan biaya pendanaan proyek, serta realisasi belanja infrastruktur APBN yang melambat di tengah konsolidasi fiskal pemerintah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, dampak dari peningkatan cukup signifikan, terutama bagi emiten konstruksi yang masih memiliki leverage tinggi. 

Suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya pendanaan, sementara pelemahan rupiah berpotensi menekan biaya proyek dan modal kerja. 

Khusus untuk BUMN karya, kondisi ini dapat memperlambat proses pemulihan kinerja dan restrukturisasi utang yang masih berlangsung. 

“Kasus penundaan pembayaran bunga obligasi PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) juga menunjukkan bahwa tekanan likuiditas masih menjadi tantangan di sektor ini,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Pada tahun 2026, sentimen positif emiten konstruksi berasal dari peningkatan belanja infrastruktur pemerintah, penyelesaian restrukturisasi BUMN karya, serta pertumbuhan proyek swasta di sektor kawasan industri, data center, dan energi. 

Sebaliknya, suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, ketatnya persaingan tender, dan risiko keterlambatan pembayaran proyek masih menjadi faktor penekan.

Secara valuasi, saham konstruksi BUMN terlihat murah, namun diskon tersebut mencerminkan tingginya risiko leverage dan kualitas neraca. Investor sebaiknya memilih emiten dengan fundamental dan arus kas yang lebih sehat. 

“Kami mengunggulkan TOTL, NRCA, dan SSIA karena memiliki neraca yang lebih sehat dan eksposur yang lebih besar ke proyek swasta,” ungkapnya.

Sukarno pun merekomendasikan accumulative buy untuk NRCA dengan target harga Rp 500 per saham. Rekomendasi trading buy juga disematkan untuk TOTL, SSIA, ADHI, dan PTPP dengan target harga masing-masing Rp 1.180 per saham, Rp 1.760 per saham, Rp 175 per saham, dan Rp 216 per saham.

Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten Konstruksi di Tengah Tantangan Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News