KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan biaya dana masih menjadi tantangan bagi industri perbankan di tengah tren suku bunga tinggi. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sejumlah bank besar belum optimal, lantaran kenaikan beban bunga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga. Salah satu contohnya terlihat pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Hingga September 2026, NII konsolidasian BCA tercatat sebesar Rp 65,18 triliun atau hanya tumbuh 1,71% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan beban bunga sebesar 10,2% yoy menjadi Rp 11,06 triliun. Sementara itu, pendapatan bunga BCA hanya meningkat 2,86% yoy menjadi Rp 76,25 triliun.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, perseroan terus mengoptimalkan NII dengan mengandalkan pendanaan inti yang bersumber dari dana murah. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga efisiensi biaya dana yang harus ditanggung bank.
Baca Juga: Batavia Dana Kas Gebyar Cetak Return 8,16% YTD, Ini Strategi BPAM Untuk memperkuat pendanaan murah, BCA mengandalkan layanan transaksi sebagai salah satu keunggulan bisnisnya. Hingga periode tersebut, dana murah atau current account saving account (CASA) BCA tumbuh 10,4% yoy menjadi Rp 1.103 triliun, dengan rasio CASA mencapai 85,6%. “Dana murah menjadi kontributor utama pendanaan BCA seiring peningkatan transaksi secara berkelanjutan,” ujar Hera kepada Kontan, Rabu (4/11/2026). Lebih lanjut, Hera mengatakan BCA terus mengoptimalkan konsep hybrid banking untuk menghadirkan layanan perbankan secara menyeluruh. Langkah ini dilakukan guna mempertahankan posisi perseroan di pasar sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis, termasuk menjaga pertumbuhan dana murah agar tetap solid. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk membukukan pertumbuhan NII konsolidasian sebesar 6,54% yoy menjadi Rp 69,81 triliun. Secara bank only, NII Bank Mandiri juga meningkat 6,19% yoy menjadi Rp 61,19 triliun. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Widya Anggraini mengatakan, pertumbuhan tersebut relatif lebih moderat dibandingkan kenaikan pendapatan bunga perseroan. Secara bank only, pendapatan bunga Bank Mandiri tumbuh 7,08% yoy menjadi Rp 97,27 triliun. Menurut Widya, kondisi tersebut mencerminkan fenomena peningkatan biaya dana yang juga terjadi di industri perbankan. Untuk mengantisipasinya, Bank Mandiri berupaya memperkuat pendapatan melalui peningkatan efisiensi operasional secara konsisten serta diversifikasi sumber pendapatan. “Dengan pendapatan yang semakin kuat dan terdiversifikasi, efisiensi yang terus meningkat, serta kualitas aset yang terjaga, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan profitabilitas yang sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga: Porsi Pendanaan dari Institusi Luar Negeri Turun, Ini Penjelasan Adira Finance Di tengah tekanan biaya dana, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) justru mampu mencatatkan pertumbuhan NII konsolidasian yang lebih tinggi dibandingkan dua bank tersebut. Hingga September 2026, NII konsolidasian BNI mencapai Rp 33,23 triliun, tumbuh 13,62% yoy. Namun, kenaikan beban bunga masih lebih tinggi, yakni sebesar 22,15% yoy menjadi Rp 26,76 triliun. Adapun pendapatan bunga meningkat 17,27% yoy menjadi Rp 60 triliun. Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan kredit yang kuat serta kapasitas pendanaan perseroan yang memadai. Hingga September 2026, kredit BNI tumbuh 22,2% yoy menjadi Rp 992,5 triliun. Pada saat yang sama, dana murah meningkat 19,6% yoy menjadi Rp 733,7 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, rata-rata imbal hasil kredit BNI berhasil mencapai 7,1%. Paolo menyebut peningkatan ini mencerminkan strategi penyesuaian suku bunga kredit (asset repricing) yang mulai memberikan hasil tanpa memicu perpindahan nasabah secara signifikan.
Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan biaya dana masih akan menjadi tantangan bagi industri perbankan, setidaknya hingga kuartal I-2027. Oleh karena itu, BNI akan terus memperkuat penghimpunan dana murah melalui pendalaman hubungan transaksi perbankan dengan nasabah. Strategi tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan penawaran suku bunga simpanan yang lebih tinggi. “Sebanyak 93% saldo giro segmen wholesale BNI berasal dari pengguna layanan BNI Direct, sedangkan aplikasi Wonder menopang pertumbuhan dana ritel,” sebut Paolo. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News