KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor properti menjadi salah satu yang paling tertekan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026. Tingginya suku bunga, ketidakpastian ekonomi global, serta sikap hati-hati investor membuat saham-saham properti terkoreksi tajam, meski sebagian besar emiten masih mampu mencetak laba. Kondisi ini diperkirakan masih membayangi sektor tersebut hingga akhir tahun.
Berdasarkan data BEI, indeks IDX Properties & Real Estate telah turun 36,37% sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: Suku Bunga Tinggi Kembali Menekan Emiten Properti Pelemahan indeks dipicu anjloknya sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti PT Ciputra Development Tbk (
CTRA), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI), PT Pakuwon Jati Tbk (
PWON), dan PT Sentul City Tbk (
BKSL), yang mayoritas telah terkoreksi lebih dari 20% sepanjang tahun ini. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai tekanan terhadap sektor properti lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental perusahaan. Menurutnya, ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik membuat investor mengurangi eksposur pada sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. "Valuasi sektor ini memang sudah cukup menarik, tetapi investor masih mengkhawatirkan dampak suku bunga tinggi terhadap pencapaian
marketing sales emiten," ujar Adrian, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, Cermati Rekomendasi Saham Properti Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai kinerja operasional mayoritas emiten sebenarnya masih relatif terjaga. Namun, perhatian pelaku pasar kini lebih tertuju pada prospek bisnis ke depan dibandingkan kinerja saat ini. Menurut Nafan, tingginya bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menahan permintaan dan membatasi ruang ekspansi pengembang. Di saat yang sama, meningkatnya sikap risk-off investor global terhadap saham-saham siklikal domestik turut memperberat tekanan pada sektor properti. Kekhawatiran terhadap perlambatan
marketing sales, penjualan rumah, serta arus kas perusahaan juga membuat valuasi saham properti terus tertekan, meski sejumlah emiten masih mampu membukukan laba yang solid.
Adrian memperkirakan tekanan terhadap sektor properti masih akan berlanjut hingga akhir 2026, terutama bagi pengembang yang bergantung pada penjualan di segmen menengah ke bawah. Sebaliknya, emiten yang memiliki pendapatan berulang (recurring income) dari pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, maupun kawasan industri dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik di tengah perlambatan pasar.
Baca Juga: Tren Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Saham Ciputra Development (CTRA) Selain arah suku bunga, keberlanjutan insentif pemerintah untuk sektor properti serta percepatan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri akan menjadi faktor penting yang menentukan prospek sektor ini pada paruh kedua tahun ini. Di tengah tekanan tersebut, kedua analis masih menilai saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI) memiliki prospek yang relatif menarik. Adrian merekomendasikan buy dengan target harga Rp8.500 per saham, sedangkan Nafan memberikan rekomendasi add dengan target harga Rp7.425 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News