JAKARTA. Selama ini, pasokan berlimpah menjadi biang kerok harga minyak tak kunjung siuman. Para milisi yang menguasai harga minyak di Irak, Suriah dan Libia terus memasok si emas hitam ke pasar. Untunglah harga minyak WTI terbantu oleh anjloknya nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan lalu. Mengutip Bloomberg, Jumat (29/7) kontrak harga minyak WTI pengiriman September 2016 di New York Merchantile Exchange terbang 1,12% menjadi US$ 41,60 per barel. Namun sepekan terakhir harga menukik 5,86%. Analis PT Finex Berjangka Nanang Wahyudin menuturkan, pertumbuhan ekonomi kuartal-II AS yang jauh di bawah prediksi menjadi penyebab utama rontoknya USD. Efeknya, harga minyak WTI melenggang mulus. "Sesaat ini menjadi perhatian pasar," ujar Nanang.
Sulit berharap harga minyak melonjak
JAKARTA. Selama ini, pasokan berlimpah menjadi biang kerok harga minyak tak kunjung siuman. Para milisi yang menguasai harga minyak di Irak, Suriah dan Libia terus memasok si emas hitam ke pasar. Untunglah harga minyak WTI terbantu oleh anjloknya nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan lalu. Mengutip Bloomberg, Jumat (29/7) kontrak harga minyak WTI pengiriman September 2016 di New York Merchantile Exchange terbang 1,12% menjadi US$ 41,60 per barel. Namun sepekan terakhir harga menukik 5,86%. Analis PT Finex Berjangka Nanang Wahyudin menuturkan, pertumbuhan ekonomi kuartal-II AS yang jauh di bawah prediksi menjadi penyebab utama rontoknya USD. Efeknya, harga minyak WTI melenggang mulus. "Sesaat ini menjadi perhatian pasar," ujar Nanang.