Sumber Global Energy (SGER) Siapkan Mesin Pertumbuhan Baru di Luar Bisnis Batubara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menyiapkan sejumlah ekspansi bisnis dan aksi korporasi hingga akhir 2026.

Langkah tersebut mencakup pengembangan pabrik hidrogen peroksida (H2O2), penjajakan smelter nikel, serta pelunasan obligasi senilai Rp270 miliar.

SGER melalui anak usahanya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), berencana melakukan run test commencing pabrik H2O2 di Merak, Banten, mulai tahun ini.


Baca Juga: Rambah AI Data Center, Intip Profil Emiten MGLV, Lini Bisnis, dan Kinerja Terkini

Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 20.000 metrik ton per tahun untuk konsentrasi 100% atau setara 40.000 metrik ton per tahun untuk konsentrasi 50%.

Corporate Secretary SGER Michael Harold mengatakan, pengoperasian pabrik H2O2 menjadi bagian dari strategi perseroan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis perdagangan batubara sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

"Prospek industri yang baik saat ini, operasional pabrik ini tentunya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi SGER di masa depan," kata Michael dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).

Hidrogen peroksida digunakan di berbagai sektor industri, antara lain pulp dan kertas, tekstil, hingga pertambangan.

Baca Juga: Pos Indonesia Kembali Tunda Bagi Hasil Sukuk, Target Bayar Mulai Januari 2027

Selain ekspansi H2O2, SGER melalui PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA) juga menjajaki pengembangan pabrik pengolahan atau smelter nikel di Sulawesi Selatan.

Rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kemitraan Strategis (Strategic Partnership Agreement) dengan PT Hengsheng New Energy Material Indonesia (Hengsheng).

 
SGER Chart by TradingView

Michael mengatakan pengembangan smelter tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi nikel dan meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.

Di tengah agenda ekspansi tersebut, SGER juga akan melunasi Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai Rp270 miliar yang jatuh tempo pada 25 Oktober 2026.

Menurut Michael, pelunasan obligasi akan menggunakan kas internal perseroan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SGER menjaga struktur permodalan sekaligus memenuhi kewajiban finansial yang jatuh tempo.

Baca Juga: IHSG Dibuka Rebound Kamis (10/9), Bursa Asia Memerah dan Minyak di Atas US$ 100

Dari sisi kinerja, SGER mencatat pendapatan Rp4,32 triliun pada semester I-2026, naik 6,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,05 triliun.

Pendapatan masih didominasi segmen batubara sebesar Rp3,16 triliun. Berikutnya, pendapatan dari pasir dan kapur mencapai Rp495,16 miliar, kokas minyak bumi Rp379 miliar, nikel Rp284,29 miliar, serta produk kelapa sawit Rp1,50 miliar.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp137,95 miliar atau tumbuh 8,83% secara tahunan.

" Dengan rentetan aksi ekspansi dan aksi korporasi ini, kami berharap SGER dapat terus mencatatkan kinerja yang baik ke depan," tutup Michael.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News