Sumber Sinergi Makmur (IOTF) Gandakan EBITDA, Pendapatan Naik 5% pada 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF) optimistis bisa membukukan kinerja positif pada tahun buku 2025.

Manajemen IOTF mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, emiten yang bergerak di bisnis perangkat Global Positioning System (GPS) ini mampu menggandakan Earning Before Interest, Tax, Depreciation, and Amortization (EBITDA).​

Direktur Utama Sumber Sinergi Makmur, Alamsyah belum memaparkan secara rinci raihan pendapatan dan laba IOTF, karena laporan keuangan tahun buku 2025 masih dalam proses audit.


Alamsyah menambahkan, gambaran bahwa pada tahun 2025, IOTF mencatatkan ekspansi EBITDA lebih dari 100% dan membukukan pertumbuhan pendapatan sekitar 5% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan 2024.

Baca Juga: Hingga Januari 2026, KAI Angkut 983.000 Ton Barang Non Batubara

Menurut Alamsyah, lonjakan EBITDA yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan menunjukkan IOTF tidak semata mengejar kenaikan volume dan ekspansi top line, melainkan secara konsisten mengeksekusi strategi peningkatan margin, efisiensi biaya, dan kualitas laba.

"Pada 2025 pendapatan kami meningkat sekitar 5% dibandingkan 2024, sementara EBITDA tumbuh lebih dari dua kali lipat. Ini mencerminkan peningkatan kualitas laba dan efektivitas eksekusi strategi manajemen," kata Alamsyah melalui keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Senin (2/2/2026).

Manajemen IOTF mengatribusikan peningkatan kinerja ini pada peningkatan efisiensi operasional, produktivitas tenaga kerja, serta implementasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP) berbasis Artificial Intelligence (AI).

Penerapan AI dalam sistem ERP memungkinkan integrasi data operasional dan keuangan secara real-time, mempercepat siklus pengambilan keputusan, serta meningkatkan akurasi perencanaan dan pengendalian biaya.

Alamsyah menegaskan bahwa implementasi ERP berbasis AI menjadi bagian dari strategi IOTF dalam memprioritaskan profitabilitas dan disiplin biaya, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

"Kami menunggangi AI di era modern dengan pendekatan bisnis yang berfokus pada penciptaan nilai dan optimalisasi keuntungan melalui efisiensi, produktivitas, dan kontrol operasional yang ketat,” ujar Alamsyah.

Baca Juga: Dugaan Transaksi Ilegal Impor Tekstil, Industri TPT Desak Pemerintah Usut Tuntas

Adapun, IOTF beroperasi di segmen Internet of Things (IoT) dan solusi telematika dengan portofolio produk yang meliputi perangkat GPS tracker, dash camera, serta platform Software as a Service (SaaS) di bawah merek Fox Logger. Solusi dari IOTF digunakan oleh perusahaan logistik dan rental untuk melakukan pemantauan kendaraan secara menyeluruh, termasuk posisi real-time, lokasi parkir, jarak tempuh, histori rute, konsumsi bahan bakar, analisis perilaku pengemudi, serta pemantauan video.

Dari sisi tata kelola dan kesiapan operasional, IOTF memiliki sejumlah sertifikasi internasional, antara lain ISO 9001:2015, ISO 27001:2022, ISO 20000-1:2018, dan ISO 22301:2019. Sertifikasi ini memperkuat posisi IOTF sebagai penyedia solusi teknologi dengan standar kualitas, keamanan informasi, dan keberlangsungan bisnis yang tinggi.

Secara kinerja, penjualan IOTF menyusut tipis 1,11% (yoy) dari Rp 45,81 miliar menjadi Rp 45,30 miliar sampai dengan kuartal III-2025. Meski begitu, IOTF memacu efisiensi operasional dengan memangkas beban pokok penjualan sebanyak 9,63% (yoy) menjadi Rp 26,93 miliar.

 
IOTF Chart by TradingView

Hasil tersebut membuat perolehan laba kotor IOTF meningkat 14,75% (yoy) menjadi Rp 18,36 miliar. Secara bottom line, laba bersih IOTF tumbuh 55,23% (yoy) dari Rp 402,09 juta menjadi Rp 624,19 juta hingga September 2025.

Alamsyah mengungkapkan adanya perbaikan kinerja pada kuartal IV-2025. Salah satu pendorongnya adalah pertumbuhan penjualan produk dash camera pada akhir tahun lalu.

"Betul (kinerja) kuartal IV naik, penjualan produk dash cam meningkat," tegas Alamsyah.

Alamsyah menambahkan bahwa transformasi digital internal yang dijalankan IOTF telah menghasilkan leverage operasional yang lebih sehat. Hal ini tercermin dari peningkatan produktivitas per karyawan dan penurunan rasio biaya operasional terhadap pendapatan.

Model dan strategi ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi IOTF dalam menghadapi volatilitas ekonomi, sekaligus membuka ruang untuk ekspansi margin yang berkelanjutan. Sebagai acuan kinerja untuk tahun ini, IOTF memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sekitar 30% pada tahun 2026.

Manajemen IOTF memandang bahwa struktur operasional yang lebih ramping, kapabilitas teknologi berbasis AI, serta disiplin alokasi sumber daya akan menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan yang lebih berkualitas.

"Dengan pendekatan yang berfokus pada profitabilitas dan fundamental, IOTF berada pada posisi yang lebih resilien untuk menangkap peluang jangka menengah hingga panjang di tengah percepatan digitalisasi sektor logistik dan transportasi nasional," tandas Alamsyah.

Selanjutnya: BPS Mencatat Ekspor CPO dan Besi-Baja RI Meningkat Sepanjang Tahun 2025

Menarik Dibaca: Infokost.id Diluncurkan Kembali, Hadirkan Cara Baru Cari Kost

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News