KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Summarecon Agung Tbk (
SMRA) masih ditopang pertumbuhan penjualan properti. Namun, kasus operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melibatkan Direktur Utama SMRA Adrianto Pitojo Adhi turut memunculkan risiko tata kelola yang perlu dicermati investor. Di tengah sentimen tersebut, kinerja operasional SMRA masih menunjukkan pertumbuhan.
Marketing sales SMRA pada semester I-2026 mencapai Rp 2,54 triliun, tumbuh 17% secara tahunan atau
year on year (YoY). Realisasi ini setara dengan 49% dari target
marketing sales sepanjang 2026 sebesar Rp 5,2 triliun. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, peluang SMRA mencapai target
marketing sales 2026 masih terbuka. Kinerja penjualan pada paruh kedua tahun ini akan menjadi salah satu faktor penentu, terutama dengan dukungan peluncuran proyek baru dan insentif PPN DTP.
Baca Juga: Surya Semesta (SSIA) Siapkan MESOP, Maksimal 82,34 Juta Saham Bisa Dieksekusi “Target
marketing sales tahun ini masih realistis untuk dicapai, terutama dengan dukungan peluncuran produk baru, insentif PPN DTP, serta kontribusi dari kawasan Serpong dan Bekasi,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (26/10/2026). Terkait kasus OTT KPK, Abida menyebut dampaknya lebih berpotensi mempengaruhi sentimen pasar dan persepsi investor terhadap tata kelola perusahaan dalam jangka pendek. Menurutnya, kasus tersebut tidak serta-merta mengubah fundamental operasional SMRA, termasuk capaian
marketing sales, backlog penjualan, dan proyek-proyek yang sedang berjalan. “Hal yang perlu dipantau adalah kesinambungan kepemimpinan dan kelancaran pengambilan keputusan selama proses hukum berlangsung, serta potensi investor institusi menjadi lebih berhati-hati,” tuturnya. Meski demikian, investor tetap perlu memperhitungkan kondisi keuangan perseroan. Pada semester I-2026, pendapatan SMRA tercatat sebesar Rp 4,25 triliun, turun sekitar 7% YoY. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 34% YoY menjadi Rp 332,39 miliar. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menyoroti tekanan terhadap profitabilitas SMRA di tengah meningkatnya beban keuangan. Pada semester I-2026, beban keuangan perseroan naik sekitar 10% YoY menjadi Rp 627,4 miliar. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal II-2026 turun 46% YoY menjadi Rp 143 miliar. “
Leverage yang tinggi dan kenaikan beban keuangan, ditambah kerugian berkelanjutan dari segmen rekreasi, berpotensi membatasi ruang kenaikan valuasi SMRA,” jelas Kevin dalam risetnya, Sabtu (17/9/2026).
Baca Juga: Emiten Grup Salim Buyback Saham Rp 2,25 Triliun, Simak Prospek dan Rekomendasinya Di sisi lain, arus kas operasional SMRA menunjukkan perbaikan. Arus kas operasional mencapai sekitar Rp 900 miliar, meningkat dibandingkan Rp 412 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan kas dari pelanggan juga tumbuh 16% YoY menjadi Rp 4,48 triliun. Namun, utang bank bruto perseroan meningkat 13% YoY seiring kebutuhan pendanaan untuk pembelian lahan dan investasi properti. Rasio
net gearing SMRA berada di kisaran 0,6 kali, sehingga beban utang dan biaya pendanaan masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Senada, Analis Sucor Sekuritas, Cheryl Jennifer Wang menyebut, valuasi SMRA yang relatif rendah belum cukup menjadi katalis untuk mendorong kenaikan harga saham secara signifikan. Meskipun saham perseroan diperdagangkan pada sekitar 0,3 kali price to book value (PBV), tekanan leverage, peningkatan beban keuangan, dan kerugian dari segmen rekreasi masih membatasi potensi perbaikan valuasi. “Valuasi SMRA yang rendah belum serta-merta membuka ruang kenaikan yang besar karena tekanan
leverage, biaya keuangan yang meningkat, dan kerugian berkelanjutan dari segmen rekreasi masih menjadi tantangan,” kata Cheryl dalam risetnya, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Pendapatan Superior Prima Sukses (BLES) Naik 31% per Kuartal III-2026 Untuk kinerja 2026, Kevin memperkirakan pendapatan SMRA mencapai Rp 8,64 triliun dengan laba bersih Rp 540 miliar. Sementara itu, Cheryl memperkirakan pendapatan perseroan sekitar Rp 8,6 triliun dengan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 507 miliar. Dari sisi rekomendasi saham, Abida mempertahankan rekomendasi
buy untuk SMRA dengan target harga Rp 400 per saham. Menurutnya, valuasi berdasarkan PBV masih berada di bawah rata-rata historis sehingga membuka peluang akumulasi secara bertahap, dengan tetap mencermati perkembangan kasus hukum dan realisasi
marketing sales. Sementara itu, Kevin memberikan rekomendasi buy untuk SMRA dengan target harga Rp 330 per saham. Adapun Cheryl merekomendasikan hold dengan target harga Rp 300 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News