Summarecon Jajaki Penerbitan Obligasi Senilai Rp 150 Miliar



JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk tengah menjajaki penerbitan obligasi senilai minimal Rp 150 miliar. Soalnya, emiten saham berkode SMRA ini memerlukan pendanaan untuk proyek terbarunya, yakni pengembangan pemukiman seluas 250 hektare di Bekasi Utara.

Selain obligasi, SMRA akan memakai dana internal dan juga mempertimbangkan kredit perbankan. Summarecon membutuhkan dana itu untuk mengurus izin pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur perumahan yang akan dimulai tahun depan itu. "Sampai saat ini, SMRA baru berhasil membebaskan lahan sekitar 190 hektare, sedangkan sisanya masih dalam proses perizinan," kata Johannes Mardjuki, Direktur Utama SMRA, pekan lalu. Sebagai tahap awal, SMRA akan mengembangkan dua hingga tiga kluster di proyek perumahan yang bernama Kota Mandiri itu. Tiap kluster akan berisi sekitar 250.000 hingga 300.000 unit rumah.

Nantinya, kawasan tersebut akan memiliki beragam fasilitas, seperti sekolah, ruko, pusat perbelanjaan, pasar, hingga kawasan bisnis. Total investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp 5 triliun. "Proyek besar ini jangka panjang, penyelesaiannya bisa sampai 10 tahun," jelas Johannes.


SMRA optimistis terus berekspansi meski kinerjanya sedikit menurun. Pada semester pertama 2009, SMRA meraup pendapatan Rp 534,23 miliar, turun 4,3% dari Rp 557,20 miliar di periode yang sama 2008. Ujungnya, laba bersihnya tergerus 8,82% dari Rp 74,2 miliar jadi Rp 68,71 miliar. "Semester pertama tahun ini, SMRA mendapat beban tambahan, yakni rugi derivatif Rp 4,1 miliar," ujar Johannes.

Selain itu, beban bunga juga naik dari Rp 30,2 miliar menjadi Rp 48,15 miliar. Soalnya, utang SMRA di bank dan lembaga pembiayaan melonjak 29,52% jadi Rp 755,23 miliar, dari Rp 583,06 miliar. Maklum, SMRA tengah giat menggarap proyek perumahan di Serpong dan Kelapa Gading.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan