KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk (
SMRA) masih optimistis di tengah tantangan pada industri sektor properti. Tantangan utama berasal dari pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). Rupiah di pasar spot ditutup di Rp 17.989 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6/2025), turun 0,25% dari penutupan hari sebelumnya. Pekan ini BI juga kembali menaikkan kembali suku bunga menjadi 5,5%. Direktur SMRA, Lydia Tjio mengatakan, kenaikan suku bunga acuan akan mempengaruhi berbagai biaya pembiayaan, seperti suku bunga KPR, pinjaman, hingga bahan baku. Kondisi tersebut pun ditambah konflik geopolitik dan pelemahan rupiah.
Baca Juga: Summarecon Agung (SMRA) Bagi Dividen Rp 82,54 Miliar dari Laba Bersih Tahun 2025 Namun, pihaknya masih menanti kebijakan dan strategi lanjutan dari pemerintah di tengah kondisi lesunya nilai tukar mata uang Garuda. “Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, kami cukup mengelola dengan
prudent segala pengeluaran. Efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” ujarnya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026). Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adi menambahkan, pihaknya cukup optimistis pemerintah bakal kembali menggelontorkan insentif untuk dapat mengatasi risiko dari naiknya suku bunga. “Ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Pada tahun 2026, Summarecon menetapkan target
marketing sales sebesar Rp 5,2 triliun dengan kontribusi dari
marketing sales keseluruhan proyek di 9 kawasan kota terpadu. Prapenjualan properti selama kuartal I 2026 tercatat senilai Rp 1,2 triliun, lebih tinggi 37% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Baca Juga: Simak Prospek Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang Kinerjanya Susut pada 2025 Adrianto menerangkan, selama periode Januari-Mei 2026, SMRA masih berfokus melakukan penjualan untuk kelas menengah dan menengah ke atas. Kedua kelas masyarakat itu dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik. Perseroan juga masih berfokus mengembangkan sebanyak sembilan
township yang dimiliki pada tahun ini. Diharapkan, tantangan daya beli masyarakat perlahan mulai pulih. "Kami berharap pada tahun ini akan adanya pemulihan daya beli di segmen kelas menengah yang sebelumnya menghadapi tantangan," paparnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News