SUN seri FR0072 terlaris di pasar sekunder kemarin



JAKARTA. Harga surat utang negara (SUN) pada penutupan perdagangan Rabu (29/3) tercatat mengalami kenaikan. Berdasarkan situs Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), indeks INDOBeX Government Clean Price naik sebesar 0,12% ke level 114,48 dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra berpendapat bahwa volume perdagangan SUN yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp 14,08 triliun dari 45 seri SUN yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp 7,48 triliun.

Obligasi Negara seri FR0072 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp 2,62 triliun dari 148 kali transaksi di harga rata - rata 105,03% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0059 senilai Rp 2,26 triliun dari 108 kali transaksi di harga rata - rata 99,27%.


Kedua seri Obligasi Negara tersebut juga menjadi SUN yang paling sering diperdagangkan. Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp 993,58 miliar dari 33 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank Panin Tahap II Tahun 2017 (PNBN02SBCN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp 129 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,50% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Subordinasi I Bank BKE Tahun 2016 (BBKE01SB) senilai Rp106 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 97,74%.

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup menguat terbatas di level 13.314 per dollar Amerika, mengalami penguatan sebesar 4,00 (0,03%) dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. Bergerak terbatas pada kisaran 13.308 hingga 13.335 per dollar Amerika, penguatan nilai tukar rupiah terjadi di tengah bervariasinya arah perubahan mata uang regional terhadap dollar Amerika.

Mata uang Dollar Singapura (SGD) memimpin penguatan mata uang regional diikuti oleh Rupee India (INR). Sementara itu Dollar Taiwan (TWD) dan Yuan China (CNY) memimpin pelemahan mata uang regional terhadap dollar Amerika.

"Hal tersebut di tengah peluang terjadinya penguatan terhadap mata uang dollar Amerika seiring dengan rencana dari Presiden Trump yang masih akan fokus pada kebijakan moneter yang mendukung adanya pertumbuhan ekonomi," papar Made

Kebijakan itu seperti pemangkasan pajak serta belanja infrastruktur setelah pada pekan lalu program layanan kesehatan yang diajukan oleh pemerintahannya belum disetujui oleh parlemen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia