Sungai Barito Surut, Pengiriman Batubara Alamtri Minerals (ADMR) Diproyeksi Turun 40%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menghadapi tantangan logistik akibat kemarau berkepanjangan yang membuat permukaan air Sungai Barito turun signifikan. Kondisi tersebut berisiko menunda pengiriman batu bara kokas perusahaan pada kuartal III-2026.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset 9 September 2026 mengatakan, berdasarkan diskusi dengan manajemen ADMR, ketinggian air di Pelabuhan Tuhup kini berada di sekitar 14 meter. Level tersebut jauh di bawah kondisi ideal 19-23 meter untuk mendukung aktivitas pengangkutan batu bara.

"Rendahnya permukaan air akibat musim kemarau berkepanjangan meningkatkan risiko penundaan pengiriman batu bara kokas," tulis Ryan dalam risetnya.


Baca Juga: Kuota Hampir Habis, Penjualan SR025 Tenor 3 Tahun Tembus 84,2%

Indo Premier memperkirakan penjualan batu bara kokas ADMR hanya mencapai sekitar 1 juta ton (Mt) pada kuartal III-2026, turun 40% secara kuartalan (qoq). Proyeksi tersebut mempertimbangkan terbatasnya pengiriman sejak Agustus 2026.

Untuk mengantisipasi kendala logistik, manajemen telah menyiapkan sekitar 75 tongkang kosong dalam posisi standby. Armada tersebut memiliki kapasitas angkut sekitar 375.000 ton dalam setiap siklus pengiriman.

Menurut Ryan, kesiapan tongkang tersebut dapat mempercepat proses pengiriman ketika kondisi Sungai Barito kembali normal. Namun, hasil pengecekan kanal (channel check) menunjukkan curah hujan yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah belakangan ini belum memberikan dampak positif terhadap kondisi Sungai Barito.

Di tengah tersendatnya pengiriman batu bara kokas, ADMR mulai mengandalkan bisnis aluminium. Namun, Indo Premier menilai penjualan aluminium belum tentu mampu sepenuhnya mengompensasi penurunan pengiriman batu bara kokas.

Per semester I-2026, ADMR tercatat memiliki persediaan aluminium senilai sekitar US$ 319 juta dalam neraca. Meski pengiriman aluminium telah dimulai, terdapat sejumlah biaya tambahan yang dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam laporan laba rugi pada kuartal sebelumnya.

Pertama, terdapat tambahan biaya sewa dari Kaltara Power Indonesia (KPI). Pada kuartal II-2026, baru empat dari lima boiler yang beroperasi sehingga beban sewa berpotensi meningkat seiring dengan beroperasinya seluruh fasilitas.

Kedua, beban bunga tambahan yang sebelumnya dikapitalisasi diperkirakan mulai dibebankan ke laporan laba rugi sejalan dengan dimulainya operasi pabrik aluminium.

Baca Juga: Indeks CFX10 Melonjak 23,95% pada Agustus 2026

Ketiga, biaya tunai awal produksi aluminium berpotensi lebih tinggi karena proses produksi masih berada dalam tahap ramp-up. Kondisi ini dapat membuat biaya produksi aktual berada di atas panduan perusahaan sebesar US$ 2.300 per ton.

Indo Premier memperkirakan penjualan batu bara kokas ADMR pada kuartal III-2026 sebesar 1 juta ton dan penjualan aluminium ingot sekitar 150.000 ton.

Dengan asumsi tersebut, pendapatan ADMR diperkirakan mencapai US$ 670 juta pada kuartal III-2026, melonjak 112% qoq. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut diperkirakan tidak serta-merta diikuti peningkatan profitabilitas.

Ryan memproyeksikan margin EBITDA ADMR turun tajam menjadi sekitar 26% pada kuartal III-2026, dibandingkan 48% pada kuartal II-2026.

Penurunan margin terutama disebabkan oleh penjualan batu bara kokas yang lebih rendah dari ekspektasi akibat cuaca kering berkepanjangan yang mengganggu aktivitas pengangkutan dari Pelabuhan Tuhup.

Indo Premier memperkirakan laba bersih ADMR pada kuartal III-2026 mencapai sekitar US$ 69 juta. Dengan demikian, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham (NPATMI) selama sembilan bulan pertama 2026 diperkirakan sebesar US$ 244 juta.

Angka tersebut hanya setara sekitar 60% dari proyeksi Indo Premier Sekuritas dan 54% dari konsensus pasar. Artinya, kinerja ADMR hingga September 2026 berpotensi meleset dari ekspektasi analis.

Indo Premier juga telah menyusun skenario bullish dan bearish untuk ADMR. Namun, dalam kedua skenario tersebut, estimasi kinerja sembilan bulan 2026 masih belum mampu melampaui ekspektasi konsensus.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Tertekan, Investor Cermati Sinyal Kebijakan The Fed

Meski menghadapi tekanan jangka pendek akibat gangguan pengiriman dan biaya awal produksi aluminium, Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ADMR.

Target harga juga dipertahankan di level Rp 2.000 per saham. Harga saham ADMR di level Rp 1.650 per saham, turun 1,49% hingga pukul 15.46 WIB. 

Pemulihan kondisi Sungai Barito menjadi salah satu katalis penting bagi ADMR dalam jangka pendek. Normalisasi ketinggian air akan menentukan seberapa cepat pengiriman batu bara kokas kembali berjalan, sementara perkembangan produksi aluminium akan menjadi faktor penting lain yang perlu dicermati investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: