Superbank Bukukan Laba Rp 182,6 Miliar pada Semester I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank berhasil membalikkan kinerja dengan membukukan laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp 234 miliar pada semester I-2026. Perolehan ini melonjak 669% secara tahunan (year on year/YoY) seiring pertumbuhan bisnis berbasis ekosistem yang terus berlanjut.

Secara kuartalan, laba sebelum pajak Superbank juga terus meningkat. Pada kuartal II-2026, perseroan membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 134 miliar, naik 33,5% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp 100 miliar.

Sementara laba bersih pada semester I-2026 melonjak 790,42% menjadi Rp 182,6 miliar dari Rp 20,50 miliar di periode sama tahun sebelumnya.


Hingga Juni 2026, Superbank juga telah melayani lebih dari 7 juta nasabah. Di saat yang sama, total aset perseroan meningkat 81,5% YoY menjadi Rp 27 triliun.

Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan, pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan berbasis ekosistem yang dijalankan perseroan bersama para pemegang saham, yakni Grab, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank.

Baca Juga: Superbank Pertahankan Suku Bunga Deposito di 7,5%, Ini Alasannya

"Semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi Superbank. Strategi berbasis ekosistem yang kami bangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya, tidak hanya dari pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga dari meningkatnya profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset," ujar Tigor dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit tumbuh pesat menjadi Rp 13,4 triliun, atau meningkat 61% YoY dan 17,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan kredit didorong semakin luasnya integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) ke dalam ekosistem Grab dan OVO, sehingga pengguna dapat mengakses pembiayaan secara langsung melalui aplikasi yang mereka gunakan sehari-hari.

Di sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 15,9 triliun, tumbuh 89,1% YoY dan 10,3% dibandingkan kuartal I-2026.

Menurut perseroan, pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit semakin memperkuat profil likuiditas dan memberikan ruang bagi ekspansi bisnis ke depan.

Baca Juga: Kredit Melonjak 59%, Superbank Tambah Layanan Pinjaman di Aplikasi OVO

Kinerja intermediasi tersebut turut mendongkrak pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 51,7% YoY menjadi Rp 1,01 triliun. Sementara itu, net interest margin (NIM) tetap terjaga di level 8,7%.

Superbank juga mencatat peningkatan efisiensi operasional. Hal ini tercermin dari cost to income ratio (CIR) yang membaik menjadi 54,8%, dibandingkan 74,6% pada semester I-2025.

Di sisi profitabilitas, pre-tax return on equity (ROE) meningkat menjadi 5,7%, dari sebelumnya 1,2% pada periode yang sama tahun lalu.

Meski terus berekspansi, kualitas aset Superbank juga menunjukkan perbaikan. Rasio non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 1,6%, dibandingkan 2,7% pada semester I-2025.

Perseroan juga masih memiliki permodalan yang sangat kuat. Hingga akhir Juni 2026, capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 74,5%, memberikan ruang yang besar bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis.

Tigor mengatakan, pada semester II-2026 Superbank akan terus memperluas integrasi layanan keuangan di dalam ekosistem Grab, OVO, Emtek, GXS Bank, dan KakaoBank, sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat melalui penerapan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang prudent.

"Dengan fundamental yang semakin kuat, basis nasabah yang terus bertambah, serta kolaborasi yang semakin erat bersama ekosistem, kami optimistis dapat terus memperluas inklusi keuangan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," tutupnya.

Baca Juga: Superbank Perkuat Penghimpunan Dana Murah Lewat Kolaborasi dengan KakaoBank

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News