KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Superior Prima Sukses Tbk (
BLES) menyiapkan belanja modal atau
capital expenditure (capex) sekitar Rp 60 miliar hingga Rp 70 miliar pada tahun 2026. Capex BLES pada tahun ini akan digunakan untuk tiga keperluan utama.
Pertama, penambahan jumlah armada. Direktur Keuangan Superior Prima Sukses, Andrew, mengungkapkan bahwa BLES berencana melakukan pembelian 50 unit truk untuk mendukung optimalisasi jaringan distribusi. Secara keseluruhan, produsen bata ringan dengan merek Blesscon dan Superior Block ini memiliki armada sebanyak 667 unit.
Kedua, BLES akan menggunakan anggaran
capex tahun ini untuk investasi efisiensi energi dengan menambah instalasi solar panel.
Ketiga, BLES akan mengucurkan
capex untuk regenerasi mesin atau komponen alat yang sudah tua dan sering terkendala.
Baca Juga: Persaingan Mobil Semakin Ketat, Jetour Andalkan Duet Mobil Hibrid Baru Alokasi capex ini menjadi bagian dari strategi BLES untuk mendongkrak kinerja pada tahun 2026. BLES ingin mengerek naik volume dan nilai penjualan maupun perolehan laba bersih. Salah satunya dengan menjaga efisiensi operasional untuk menurunkan Harga Pokok Penjualan (HPP) per meter kubik (m³). "BLES optimis di tahun 2026 akan mengalami pencapaian yang lebih baik dibandingkan realisasi tahun 2025, baik dari sisi penjualan maupun laba bersih. Dengan berhasilnya dilakukan penurunan HPP per m3, diproyeksikan laba bersih akan mengalami kenaikan secara signifikan," kata Andrew kepada Kontan.co.id beberapa hari lalu. Hanya saja, Andrew belum merinci target penjualan dan laba bersih BLES pada tahun ini. Sebagai perbandingan, BLES membukukan penjualan senilai Rp 1,5 triliun, dengan meraih laba bersih sebesar Rp 83,94 miliar pada tahun 2025. Secara operasional, saat ini BLES memiliki lima pabrik dengan enam lini produksi. Pabrik BLES berlokasi di Mojokerto, Lamongan, Sragen, Sidoarjo dan Banjarnegara. BLES merupakan salah satu produsen bata ringan terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 5,6 juta m³ per tahun.
Baca Juga: Penonton Usai Lebaran Ramai, MD Entertainment (FILM) Siapkan Deretan Film Baru Pada tahun lalu, volume penjualan BLES tercatat sebesar tercatat sebesar 3,67 juta m³. Melonjak signifikan dibandingkan tahun 2024, yang kala itu sebesar 3,01 juta m³. BLES pun berhasil menjaga tren pertumbuhan volume penjualan sejak tahun 2013, yang saat itu hanya sebesar 12.000 m³. Andrew belum merinci target volume penjualan BLES pada tahun ini. Dia hanya menegaskan bahwa BLES memproyeksikan pertumbuhan volume penjualan dengan level yang konservatif dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan analisis industri yang dilakukan oleh Manajemen BLES, sektor konstruksi nasional menunjukkan pertumbuhan yang didorong oleh Program Strategis Nasional (PSN), peningkatan pembangunan perumahan, apartemen, dan kawasan industri. Hal tersebut mendorong permintaan material bangunan ringan yang efisien dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Laba PGN (PGAS) Naik 45,84%, Saat Pendapatan Susut di Kuartal I-2026 Andrew mengatakan bahwa secara historis pemasaran produk BLES tidak bergantung pada berjalannya proyek dari Pemerintah. Namun, proyek-proyek strategis pemerintah seperti program 3 juta rumah, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dan Sekolah Rakyat berpotensi menjadi katalis positif bagi industri bahan bangunan, termasuk untuk produk bata ringan. "Program pemerintah ini akan menjadi katalis positif bagi industri bahan bangunan dan tentunya jika berjalan akan menjadi pertimbangan bagi BLES untuk melakukan penjualan baik secara langsung maupun tidak langsung, jika dapat memberikan dampak positif secara keuangan," tandas Andrew. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News