Suplai kurang, harga aluminium naik



JAKARTA. Reli harga aluminium berlanjut. Harga aluminium sudah menguat dalam enam hari terakhir. Kenaikan harga ditopang oleh prediksi suplai aluminium yang berkurang. Maklum, produksi aluminium dari dua produsen terbesar di dunia akan terpangkas pada tahun ini.Mengutip Bloomberg, harga aluminium untuk pengiriman tiga bulan ke depan di London Metal Exchange (LME), kemarin (18/3), naik 0,23% dari hari sebelumnya menjadi US$ 1.736,50 per metrik ton.Suplai komoditas ini diperkirakan berkurang sebagai buntut dari keputusan produsen aluminium terbesar Amerika Serikat (AS), Alcoa Inc yang akan menutup smelter di Australia. Pengolahan aluminium  itu akan ditutup karena kurang menguntungkan.Penutupan smelter Alcoa di Australia berarti mengurangi kapasitas produksi aluminiium Alcoa sebanyak 190.000 ton menjadi 3,7 juta ton. "Pengumuman Alcoa memberikan dorongan untuk harga aluminium," kata Hwang Il Doo, seorang trader senior di Korea Exchange Bank Futures Co seperti yang dikutip Bloomberg Selasa (18/2).Selain Alcoa, katalis kenaikan harga aluminium juga datang dari produsen aluminium terbesar lain, United Co Rusal yang berbasis di Rusia. Perusahaan ini memperkirakan, produksi aluminium pada tahun 2014 turun menjadi 3,5 juta ton dari tahun lalu yang sebesar 3,9 juta ton. Penurunan produksi Rusal terjadi akibat penutupan smelter yang tidak efisien di Rusia.Analis Megagrowth Futures, Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, penutupan smelter dua produsen besar sudah pasti akan berdampak pada kenaikan harga aluminium. "Harga aluminium bisa menguat," kata Wahyu.Selain faktor gangguan produksi, kenaikan harga aluminium juga didukung oleh pelemahan nilai tukar dollar AS. Sari China, data penyaluran kredit Negeri Panda di Januari yang mencapai rekor tertinggi sebesar RMB 2,58 triliun atau sebanding dengan US$ 425 miliar juga mendongkrak harga aluminium.Sejumlah data ekonomi China yang akan dirilis seperti neraca perdagangan dan penjualan ritel juga berpotensi mengangkat harga aluminium. Perbaikan ekonomi China yang merupakan salah satu konsumen terbesar aluminium menjadi sentimen positif bagi komoditas ini.Secara teknikal, indikator stochastic berada di level 75. Sedangkan, relative strenght index (RSI) berada di area 50 yang mengindikasikan peluang kenaikan harga. Grafik moving average (MA) berada di atas MA 25, MA 50 dan juga MA 100. Sedangkan Moving average convergence divergence (MACD) masih berada di level negatif. Wahyu menebak, hingga akhir pekan ini, harga alumunium akan bergerak di US$ 1.760-1.780 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Sofyan Hidayat