Suplai seret, harga aluminium melesat



JAKARTA. Harga aluminium bertengger di dekat level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Harga logam industri ini melejit, lantaran spekulasi suplai bakal seret, sementara permintaan berpotensi naik.

Data Bloomberg menunjukkan, Jumat (4/4), harga aluminium untuk pengiriman tiga bulan ditutup pada level US$ 1.822 per metrik ton (MT). Harga ini mendekati posisi tertinggi sejak November 2013 yang tercetak hari sebelumnya, yaitu US$ 1.834 per MT.

Dalam sepekan, harga logam aluminium ini tercatat sudah naik sebesar 3,6%. Hasil penelitian intelijen Harbor memperkirakan, butuh waktu lebih dari 24 jam untuk mendapatkan pasokan aluminium dari cadangan di Vlissingen, Belanda.


Padahal, pada pekan lalu, produsen Alcoa Inc. menyatakan, bakal memangkas kapasitas smelter di Brasil. Pasalnya, harga yang rendah tidak kompetitif dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Produsen aluminium terbesar di dunia, United Co RUSAL juga menyebut, produksi akan jatuh ke level terendah delapan tahun terakhir. Makanya, pasar global diperkirakan defisit suplai aluminium minimal 1,1 juta ton pada tahun ini dan tahun depan.

Data LME menunjukkan, stok aluminium tergerus selama enam hari terakhir hingga tersisa 5,35 juta MT. Analis PT Central Capital Futures, Wahyu Tribowo Laksono menilai, bangkitnya harga aluminium didorong pulihnya sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS), dan kebijakan pelonggaran stimulus di China.

Menurutnya, ekonomi global yang membaik berpotensi mengangkat jumlah permintaan aluminium. Sekadar gambaran, aluminium banyak digunakan untuk industri konstruksi, transportasi dan industri makanan minuman.

"Suplai aluminium yang tertahan juga memicu harga semakin kuat," ujar Wahyu. Secara teknikal, harga aluminium masih terlihat rebound. Hal ini tercermin dari posisi harga yang sudah melewati moving average (MA) 200. Indikator lainnya, yaitu moving average convergence divergence (MACD) masih positif di level 7,93.

Hanya, pergerakan stochastic sudah memasuki area jenuh beli di level 83%, namun masih ada sedikit potensi untuk melanjutkan kenaikan. Sedangkan, indikator relative strength index (RSI) berada di level 60%. Wahyu memprediksi, sepekan ini, harga aluminium masih berpeluang reli di kisaran US$ 1.780-US$ 1.880 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie