Surplus BI Diproyeksi Menyempit Karena Biaya Operasi Moneter yang Membengkak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya operasi moneter Bank Indonesia (BI) berpotensi membengkak pada akhir 2025 dan 2026.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, kondisi tersebut dipicu oleh kebijakan bank sentral yang cenderung lebih berhati-hati di tengah tekanan pasar, serta ruang surplus BI yang semakin terbatas.

Penilaian ini sejalan dengan proyeksi BI yang memperkirakan surplus pada 2026 hanya sekitar Rp 20,8 triliun, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.


Baca Juga: Surplus BI Diproyeksi Naik Imbas Kenaikan Kepemilikan SBN, Begini Perkiraan di 2026

Sementara pada tahun 2025, Rizal menilai terdapat sejumlah faktor yang memungkinkan surplus lebih rendah dibandingkan perkiraan awal.

“Dengan kondisi awal tahun yang ditandai tekanan rupiah dan volatilitas pasar, BI kemungkinan harus mempertahankan stance moneter ketat lebih lama. Artinya, biaya operasi moneter akan tetap tinggi,” ujar Rizal kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Rizal menjelaskan, apabila pada saat yang sama, keuntungan valuasi aset valuta asing (valas) BI menurun akibat stabilisasi nilai tukar atau penguatan rupiah, maka surplus BI berisiko berada di bawah proyeksi. 

Baca Juga: Wamenkeu Suahasil Ungkap Peran Swasta Jadi Kunci Capai Pertumbuhan Ekonomi

Menurutnya, kinerja surplus BI sangat ditentukan oleh kombinasi arah nilai tukar, durasi kebijakan suku bunga tinggi, serta dinamika likuiditas fiskal dan moneter antara pemerintah dan BI.

Adapun surplus BI pada tahun 2025, Rizal menyebut pelemahan rupiah justru meningkatkan keuntungan bagi bank sentral karena dapat memberikan keuntungan valuasi dari aset valas. 

"Namun, yang perlu dicermati justru meningkatnya biaya kebijakan moneter akibat intensitas stabilisasi nilai tukar dan pengelolaan likuiditas," ungkap Rizal.

Selain itu, penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dari BI berpotensi menggeser struktur likuiditas sistem keuangan. Kondisi tersebut dapat memaksa BI melakukan operasi moneter tambahan yang berbiaya.

Meski demikian, Rizal menyebut tak menutup kemungkinan jika surplus BI pada tahun 2025 lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Dalam konteks ini, meskipun BI memproyeksikan Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) surplus Rp 68,66 triliun pada 2025, angka tersebut berpeluang menyusut di akhir 2025 apabila beban bunga instrumen moneter dan biaya stabilisasi lebih dominan dibandingkan keuntungan valuasi kurs,” pungkas Rizal.

Selanjutnya: Krisis Chip Memori Tekan Industri Laptop, ASUS Pertimbangkan Penyesuaian Harga

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News