Surplus BI Diproyeksi Naik Imbas Kenaikan Kepemilikan SBN, Begini Perkiraan di 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan surplus Bank Indonesia (BI) akan meningkat pada 2025, seiring dengan kenaikan pendapatan dan penurunan beban keuangan bank sentral. Namun, surplus tersebut diperkirakan kembali menurun pada 2026.

Sebelumnya Bank Indonesia memproyeksikan surplus tahun 2025 sebesar Rp 68,66 triliun, sementara surplus tahun 2026 yang ditargetkan lebih rendah yakni Rp 20,8 triliun.

David menjelaskan, peningkatan surplus BI pada 2025 didorong oleh potensi kenaikan pendapatan, terutama dari bertambahnya kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) BI secara nominal. Selain itu, profit moneter dari aktivitas intervensi valuta asing (valas) juga berpeluang meningkat, mengingat adanya beberapa periode depresiasi nilai tukar sepanjang 2025.


Baca Juga: Ruang Gerak Moneter BI Makin Sempit Jika Surplus Ditarik Pemerintah Sebelum Audit

“Pendapatan BI berpotensi naik seiring meningkatnya kepemilikan SBN serta profit moneter dari intervensi valas,” ujar David kepada Kontan, Minggu (25/1/2026)

Di sisi lain, beban BI diperkirakan menurun, antara lain disebabkan oleh tren penurunan yield, berkurangnya jumlah Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang beredar, serta penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah dari BI yang mengurangi beban bunga. Sementara peningkatan beban dari kebijakan excess reserves dinilai masih terbatas karena baru mulai diterapkan pada akhir tahun.

Namun demikian, David menilai surplus BI berpotensi turun pada 2026. Menurutnya, kinerja surplus bank sentral sangat dipengaruhi oleh volume operasi moneter, aktivitas intervensi valas, serta imbal hasil aset finansial yang dimiliki BI.

Dua faktor pertama, yakni operasi moneter dan intervensi valas, disebut David akan sangat bergantung pada dinamika pasar global dan domestik. Sementara itu, dari sisi imbal hasil aset, tren penurunan suku bunga berpotensi menekan return aset finansial BI, sehingga dapat menurunkan penerimaan.

Baca Juga: Purbaya Buka Opsi Tarik Sebagian Surplus BI Sebelum Tahun Buku Berakhir

Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang perlu dicermati pada 2026. Salah satunya adalah rencana revisi peraturan terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang berpotensi meningkatkan pembelian Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), sehingga berimplikasi pada kenaikan beban bunga BI.

"Level cadangan devisi juga patut diperhatikan terkait dengan potensi berlanjutnya aktivitas intervensi valas di 2026,” pungkas David.

Selanjutnya: Menilik Prospek Emiten Properti Kawasan Industri di Tengah Lesunya Investasi Asing

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News