Surplus Dagang China Tembus 360,6 Miliar Euro, UE Desak Langkah Konkret



KONTAN.CO.ID - Uni Eropa (UE) meminta China memberikan komitmen untuk mengatasi kesenjangan perdagangan yang semakin lebar. Komisi Eropa menargetkan langkah awal dari Beijing sudah dapat terlihat pada awal Oktober 2026.

Komisaris Perdagangan UE Maros Sefcovic mengatakan, pembicaraan dengan China perlu menghasilkan langkah konkret untuk mengurangi ketimpangan perdagangan antara kedua pihak.

Baca Juga: Korea Selatan Kirim Tim ke Selat Hormuz, Belum Putuskan Pengerahan Pasukan


"Kami membutuhkan indikator yang jelas mengenai arah yang akan ditempuh, serta beberapa skema percontohan untuk membuktikan bahwa konsultasi dan kerja sama ini dapat berjalan," ujar Sefcovic dalam diskusi panel di Berlin, Selasa (8/9/2026).

Tekanan UE terhadap China meningkat setelah surplus perdagangan China dengan UE mencapai 360,6 miliar euro atau sekitar US$412 miliar pada 2025. Nilai tersebut meningkat 15% dibandingkan 2024.

Kesenjangan tersebut kembali melebar pada semester I-2026, dengan surplus China terhadap UE meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Para pemimpin UE pada Juni meminta Komisi Eropa menghasilkan kemajuan dari dialog dengan China untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan tersebut.

Baca Juga: Prancis Mulai Proses Larangan Produk dari Permukiman Israel di Tepi Barat

Ekspor China Jadi Sorotan

Sefcovic mengatakan, pembicaraan dengan Beijing akan mencakup peningkatan ekspor China ke pasar Eropa, hambatan terhadap ekspor produk UE ke China, serta pembatasan ekspor China untuk sejumlah bahan baku strategis.

Beberapa produk China yang ekspornya ke UE meningkat tajam dalam setahun terakhir antara lain tekstil, bahan kimia, plastik, mesin, baterai, serta kendaraan listrik dan hibrida.

UE menilai lonjakan tersebut sebagian besar dipengaruhi kelebihan kapasitas produksi China yang kemudian mendorong produk berharga kompetitif masuk ke pasar Eropa.

China menolak tudingan tersebut. Beijing menilai isu ketidakseimbangan perdagangan dan kelebihan kapasitas produksi yang terus digaungkan negara-negara Barat merupakan bentuk proteksionisme yang bertujuan menekan dan membatasi China.

Sefcovic sebelumnya menargetkan pembicaraan dengan China menghasilkan "hasil nyata" pada awal Oktober, bertepatan dengan rencana kunjungannya ke Beijing.

Namun, ia belum menjelaskan produk apa saja yang kemungkinan akan dibatasi ekspornya oleh China.

Baca Juga: Helikopter Layanan Dokter Terbang Jatuh di Sarawak Malaysia, 5 Orang di Dalam

UE Soroti Mineral Strategis

Selain ekspor barang, akses terhadap bahan baku strategis menjadi perhatian utama UE.

Sefcovic mengatakan UE ingin memperoleh kejelasan mengenai kebijakan ekspor China untuk komoditas penting seperti rare earths dan cip generasi lama (legacy chips).

China memiliki posisi dominan dalam pemrosesan sejumlah mineral kritis dan mulai memperketat ekspor rare earths pada April 2025.

Menurut Sefcovic, UE juga ingin menghilangkan berbagai hambatan yang dihadapi perusahaan Eropa ketika mengekspor produk ke pasar China.

Ia menegaskan, masalah defisit perdagangan tidak mungkin diselesaikan hanya melalui satu kunjungan ke Beijing. Namun, proses tersebut harus dimulai dan membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak.

Baca Juga: Gaji Naik Rp 30 M, PM Negeri Tetangga Ini Sumbangkan Seluruh Kenaikan untuk Sosial

"Kami tidak akan menyelesaikan defisit perdagangan besar-besaran ini hanya dengan satu perjalanan ke Beijing. Namun, prosesnya harus dimulai dan membutuhkan keterlibatan kedua pihak," kata Sefcovic.

Ia memperingatkan, kegagalan mencapai kemajuan melalui dialog dapat meningkatkan tekanan politik di Eropa untuk mencari solusi alternatif.

"Jika kami tidak dapat menunjukkan bahwa cara ini berhasil, akan ada tekanan politik yang sangat besar untuk mencari solusi lain karena hal itu akan merugikan masa depan ekonomi Eropa," pungkasnya.