Surplus Dagang Diprediksi Menyempit per Februari 2026 Karena Impor Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 diperkirakan cenderung menyempit dibandingkan realisasi periode sebelumnya. Hal ini dikarenakan pertumbuhan impor yang melonjak dibandingkan ekspor. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, memproyeksikan surplus neraca dagang RI pada Februari 2026 berada di kisaran US$ 840 juta, lebih rendah dari posisi Januari yang surplus sebesar US$ 950 juta. Menurutnya, kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Ekspor diperkirakan tumbuh 5% secara tahunan, didorong oleh stabilisasi dan perbaikan harga komoditas unggulan seperti batu bara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), nikel, serta sejumlah mineral olahan.

Baca Juga: Satu Prajurit Gugur, Tiga Terluka Akibat Serangan Israel di Lebanon Namun di sisi lain, laju impor diperkirakan masih cukup tinggi. Hosianna memperkirakan impor tumbuh 17,79% yoy, dipicu oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal. Selain itu, faktor musiman juga turut mendorong impor, terutama pasca-libur serta dalam rangka persiapan aktivitas ekonomi domestik yang mulai meningkat. Kombinasi antara pertumbuhan ekspor yang moderat dan impor yang lebih kuat tersebut membuat surplus neraca perdagangan diperkirakan menyempit pada Februari 2026. "Impor tumbuh tinggi karena kombinasi kebutuhan bahan baku, barang modal, dan faktor seasonal pasca-libur serta persiapan aktivitas domestik, sehingga surplus neraca perdagangan diperkirakan menyempit ke sekitar US$ 0,84 miliar," ungkap Hosianna kepada Kontan, Senin (30/3/2026). Meski demikian, surplus yang tetap terjaga dinilai mencerminkan fundamental sektor eksternal Indonesia yang masih cukup solid di tengah dinamika perdagangan global.

Baca Juga: Surplus Dagang RI Diprediksi Naik Jadi US$ 1,50 Miliar, Terdongkrak Harga Komoditas


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News