KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia. Pada Juli 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 0,12 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencatat surplus US$ 3,10 miliar. Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$ 2,98 miliar.
Baca Juga: Cuaca Kering dan Harga Pupuk Naik, Produksi Sawit 2027 Terancam Turun 2,9% Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, surplus perdagangan Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Hal ini tercermin dari ekspor nasional yang tumbuh 2,98% dibandingkan Juni 2026 secara bulanan (
month on month/MoM). Ekspor nonmigas bahkan tumbuh lebih tinggi, yakni 4,25% MoM. “Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas,” ujar Budi dalam keterangannya, dikutip Kamis (3/9/2026). Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juli 2026 Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,70 miliar. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar US$ 22,45 miliar, yang mampu mengimbangi defisit perdagangan migas sebesar US$ 18,75 miliar.
Baca Juga: Kembali Pasarkan Merek Semen Kujang di Jabar, Ini Alasan Semen Indonesia (SMGR) AS Jadi Penyumbang Surplus Terbesar Dari sisi negara mitra dagang, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026, dengan nilai US$ 12,81 miliar. Surplus juga tercatat dengan India sebesar US$ 7,96 miliar, Filipina US$ 4,72 miliar, Malaysia US$ 3,39 miliar, dan Vietnam US$ 2,95 miliar. Sebaliknya, China masih menjadi negara dengan defisit perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia. Nilainya mencapai US$ 17,67 miliar. Setelah China, defisit perdagangan nonmigas terbesar tercatat dengan Australia sebesar US$ 4,41 miliar, Prancis US$ 1,72 miliar, Kanada US$ 1,08 miliar, dan Rusia US$ 1 miliar. Berdasarkan komoditas, surplus perdagangan nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juli 2026 berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar US$ 20,96 miliar. Berikutnya, bahan bakar mineral (HS 27) mencatat surplus US$ 16,39 miliar dan besi dan baja (HS 72) sebesar US$ 10,32 miliar.
Baca Juga: Pertumbuhan Transaksi Digital Belum Sepenuhnya Dinikmati UMKM Industri Pengolahan Jadi Motor Ekspor Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$ 26,22 miliar, meningkat 2,98% dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,05% dibandingkan Juli 2025. Ekspor nonmigas menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$ 25,43 miliar. Angka tersebut naik 4,25% secara bulanan dan 6,84% secara tahunan (year on year/YoY). Sejumlah komoditas mencatat pertumbuhan ekspor nonmigas yang signifikan pada Juli 2026. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) tumbuh 23,05%, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) naik 21,20%, sedangkan pakaian dan aksesorinya bukan rajutan (HS 62) meningkat 20,65%. Namun, beberapa komoditas mengalami penurunan. Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) turun 45,07%, nikel dan barang daripadanya (HS 75) merosot 38,25%, serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) turun 6,21%. Secara kumulatif, total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$ 167,03 miliar atau tumbuh 4,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$ 160,01 miliar atau meningkat 5,21%.
Baca Juga: Danantara Perluas Portofolio Investasi, Jajaki Pendanaan Rp 2 Triliun ke VKTR Industri pengolahan menjadi sektor utama yang menopang ekspor nasional. Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16% dengan kontribusi sebesar 82,18% terhadap total ekspor. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 11,73%, migas 4,20%, dan pertanian 1,89%. Budi mengatakan dominasi industri pengolahan menunjukkan pentingnya peningkatan nilai tambah produk dalam negeri melalui hilirisasi. “Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” katanya. Sejumlah produk hilirisasi mencatat pertumbuhan ekspor yang kuat sepanjang Januari-Juli 2026. Ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 85,78%. Ekspor nikel dan barang daripadanya (HS 75) meningkat 49,84%, sedangkan tembaga dan barang daripadanya (HS 74) tumbuh 36,14%. Sebaliknya, ekspor logam mulia dan perhiasan/permata mengalami penurunan terdalam, yakni 40,08%. Dari sisi pasar tujuan, China masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, disusul AS dan India. Sementara itu, pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat ke Hong Kong sebesar 36,79%, Turki 30,58%, dan Thailand 21,92%.
Baca Juga: Pemerintah Bidik Penerapan B60 pada 2027, Rencana Tambah 10% HVO Impor Tumbuh, Bahan Baku Dominan Di sisi impor, Indonesia mencatat nilai impor sebesar US$ 26,09 miliar pada Juli 2026. Nilai tersebut meningkat 0,72% dibandingkan Juni 2026 dan melonjak 27,02% dibandingkan Juli 2025. Kenaikan terutama berasal dari impor nonmigas yang tumbuh 4,57% secara bulanan menjadi US$ 22,33 miliar. Sementara itu, impor migas justru turun 17,33% menjadi US$ 3,77 miliar. Secara kumulatif Januari-Juli 2026, total impor mencapai US$ 163,33 miliar atau meningkat 19,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Struktur impor masih didominasi bahan baku dan penolong dengan pangsa 71,45%. Selanjutnya, barang modal mencapai 19,88% dan barang konsumsi sebesar 8,67%.
Baca Juga: Kinerja Operasional Samindo (MYOH) Lampaui Target pada Awal Semester II-2026 Dengan demikian, bahan baku dan barang modal mencapai 91,33% dari total impor Indonesia. Menurut Budi, struktur tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar barang impor digunakan untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.
“Perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya,” ujarnya. Pemerintah, lanjut Budi, akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan domestik dan peningkatan ekspor. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan daya saing produk, hilirisasi, diversifikasi pasar, serta pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News