KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut tajam seiring lonjakan impor yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April 2026 hanya mencatat surplus US$ 89,1 juta, jauh lebih rendah dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar. Meski demikian, capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan, menyempitnya surplus terjadi karena kenaikan impor yang signifikan pada April 2026.
Baca Juga: BPS: Inflasi Mei 2026 Capai 0,28%, Harga Pangan dan BBM Jadi Biang Kerok "Pada April 2026 nilai impor mencapai US$ 25,21 miliar atau meningkat 22,49%," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026). Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 25,30 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 25,21 miliar. Kondisi tersebut membuat selisih antara ekspor dan impor semakin tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Pudji menjelaskan, surplus April 2026 masih ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus sebesar US$ 3,53 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72). "Surplus pada April 2026 ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$ 3,53 miliar," katanya. Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$ 3,44 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-April 2026 mencatat surplus sebesar US$ 5,64 miliar. Namun, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 11,07 miliar. Menurut BPS, surplus kumulatif tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar. Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$ 8,52 miliar.
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Melonjak Jadi 3,08% per Mei 2026 Komoditas penyumbang surplus terbesar sepanjang Januari-April 2026 berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) dengan surplus US$ 11,71 miliar. Selanjutnya bahan bakar mineral (HS 27) mencatat surplus US$ 8,34 miliar dan besi serta baja (HS 72) sebesar US$ 5,71 miliar. Adapun defisit terbesar berasal dari kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84) yang mencapai US$ 9,87 miliar. Kemudian mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan defisit US$ 4,95 miliar serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar US$ 2,80 miliar. Sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 92,15 miliar atau tumbuh 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor mencapai US$ 86,51 miliar atau melonjak 13,40% secara tahunan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News