Surplus Dagang RI Capai US$ 5,64 Miliar, AS Masih Jadi Kontributor Utama



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia terutama ditopang oleh kinerja perdagangan dengan sejumlah negara mitra utama, terutama Amerika Serikat, India, dan Filipina.

Pada periode Januari-April 2026, surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai US$ 5,64 miliar, capaian tersebut Indonesia berhasil mempertahankan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, meskipun nilainya semakin menyempit dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 11,07 miliar.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus perdagangan Indonesia terutama ditopang oleh kinerja perdagangan dengan sejumlah negara mitra utama, terutama Amerika Serikat, India, dan Filipina.


Baca Juga: China Masih Jadi Penyumbang Defisit Dagang Terbesar Indonesia Pada April 2026

"Untuk neraca perdagangan total baik migas dan nonmigas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$ 5,76 miliar, kemudian India sebesar US$ 4,41 miliar, dan Filipina sebesar US$ 2,93 miliar," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6).

Pada kelompok nonmigas, surplus terbesar juga berasal dari Amerika Serikat yang mencapai US$ 6,81 miliar, disusul India sebesar US$ 4,44 miliar dan Filipina sebesar US$ 2,77 miliar.

Menurut Pudji, surplus perdagangan dengan Amerika Serikat terutama didorong oleh ekspor mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya dari rajutan.

Sementara itu, surplus dengan India ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Adapun surplus dengan Filipina berasal dari ekspor kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.

Selain didukung oleh negara tujuan ekspor utama, surplus perdagangan Indonesia juga ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. Sepanjang Januari-April 2026, komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai US$ 11,71 miliar.

Kemudian disusul bahan bakar mineral (HS27) dengan surplus US$ 8,34 miliar dan besi serta baja (HS72) sebesar US$ 5,71 miliar.

Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-April 2026 mencapai US$ 92,15 miliar atau meningkat 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28% menjadi US$ 87,74 miliar.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia mencapai US$ 86,51 miliar atau naik lebih tinggi, yakni 13,40% secara tahunan. Meski demikian, selisih antara ekspor dan impor masih menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$ 5,64 miliar.

Baca Juga: Alarm Pangan! BPS Prediksi Produksi Padi Menyusut hingga Juli 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News