Surplus Dagang RI Diprediksi Meningkat Menjadi US$ 2,77 Miliar pada Maret 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 diperkirakan masih mencatat surplus yang lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya, meski ke depan berpotensi menghadapi tekanan.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede memproyeksikan surplus neraca dagang Maret 2026 meningkat menjadi sekitar US$ 2,77 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi Februari yang sebesar US$ 2,23 miliar.

“Surplus diperkirakan melebar menjadi US$ 2,77 miliar. Jika dibandingkan dengan angka Februari sebesar US$ 2,23 miliar, proyeksi neraca dagang bulan Maret tetap menunjukkan surplus yang lebih besar,” ujarnya kepada Kontan


Baca Juga: KAI: 81 Korban Luka Kecelakaan Argo Bromo Anggrek Sudah Pulang

Menurutnya, peningkatan surplus tersebut didorong oleh perbaikan permintaan dari mitra dagang. Sejumlah negara mitra disebut mempercepat pembelian dan menambah persediaan untuk mengantisipasi kenaikan harga serta potensi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Selain itu, kenaikan harga komoditas utama seperti energi, batu bara, dan minyak sawit turut menopang nilai ekspor. Namun demikian, secara tahunan ekspor masih diperkirakan sedikit turun sebesar 0,09% year on year (YoY), antara lain dipengaruhi faktor musiman libur Idulfitri.

Meski surplus neraca dagang Maret masih cukup solid, Josua mengingatkan bahwa prospek ke depan cenderung menghadapi tekanan.

“Meski surplus Maret masih cukup baik, arah neraca dagang ke depan cenderung menghadapi tekanan karena impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor,” jelasnya.

Ia memperkirakan impor pada Maret masih tumbuh sekitar 8,11% YoY. Kenaikan ini didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal, permintaan domestik yang tetap kuat, serta kenaikan harga minyak mengingat Indonesia masih merupakan pengimpor bersih minyak.

Baca Juga: Bank Mandiri Proyeksi Inflasi April 2026 Turun ke 0,2%, Ini Pemicunya

Dengan kondisi tersebut, ia menilai surplus neraca dagang memang masih terjaga, namun kualitasnya perlu dicermati lebih dalam.

“Artinya, surplus dagang memang masih bertahan, tetapi kualitasnya perlu dibaca hati-hati karena dorongan impor mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi sekaligus menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan apabila harga minyak dan rupiah tetap berada dalam tekanan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News