Surplus Dagang RI Diprediksi Naik Jadi US$ 1,50 Miliar, Terdongkrak Harga Komoditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 diproyeksikan kembali mencatat surplus, dengan tren yang cenderung membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memperkirakan surplus neraca dagang Februari 2026 mencapai sekitar US$ 1,50 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan US$ 950 juta di Januari,  yang tertekan oleh faktor sementara.

Menurut David, rendahnya surplus pada Januari dipengaruhi oleh faktor one-off berupa pembelian pesawat tempur dari Prancis, yang meningkatkan nilai impor secara signifikan pada periode tersebut.


Baca Juga: AHY Dikaruniai Anak Kedua, Diberi Nama Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono

Memasuki Februari, neraca dagang diperkirakan membaik seiring dengan kenaikan harga sejumlah komoditas energi, khususnya batubara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Kenaikan harga ini dinilai menjadi penopang utama kinerja ekspor Indonesia.

“Surplus neraca dagang Februari diperkirakan meningkat, didukung oleh harga energi yang lebih tinggi, terutama batu bara dan CPO,” ujar David kepada Kontan, Senin (30/3/2026).

Meski demikian, ia mencatat bahwa kenaikan harga minyak dunia yang sudah terjadi bahkan sebelum pecahnya konflik geopolitik turut mengimbangi penguatan harga komoditas ekspor, sehingga dampak bersihnya tidak terlalu besar.

David juga menilai bahwa pengaruh konflik global terhadap neraca dagang Februari masih relatif terbatas. Namun, dalam jangka waktu ke depan, ia melihat adanya potensi peningkatan surplus seiring potensi kenaikan harga komoditas ekspor andalan Indonesia, seperti batu bara, CPO, dan gas.

“Ke depan, banyak komoditas ekspor berpotensi terdongkrak naik, yang bisa menopang surplus dagang pada periode berikutnya,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News