Surplus Dagang RI Terancam Makin Tipis, Impor Melonjak Lebih Kencang dari Ekspor



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus perdagangan Indonesia semakin tertekan akibat pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Kondisi ini membuat surplus neraca perdagangan terus menyusut dan berpotensi membatasi kinerja perdagangan Indonesia hingga akhir 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus perdagangan Indonesia pada September 2026 mencapai US$ 3,36 miliar, turun dari US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026. Secara tahunan, surplus tersebut merosot 68,4%.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, surplus perdagangan September 2026 ditopang oleh sektor nonmigas sebesar US$ 5,67 miliar. Sementara itu, perdagangan migas masih mencatatkan defisit US$ 2,31 miliar.

Baca Juga: Terus Menyusut, Ekonom Proyeksi Surplus Neraca Dagang US$ 18 Miliar di Akhir 2026

Dari sisi ekspor, Indonesia membukukan nilai US$ 27,59 miliar pada September 2026, tumbuh 11,87% secara tahunan. Kenaikan ini terutama berasal dari ekspor nonmigas yang mencapai US$ 26,64 miliar.

Sejumlah komoditas yang mendorong pertumbuhan ekspor antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, tembaga, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Namun, pertumbuhan ekspor tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan impor. Nilai impor September 2026 mencapai US$ 24,23 miliar, meningkat 18,41% secara tahunan.

Ateng menjelaskan, kenaikan impor terutama didorong oleh bahan baku dan bahan penolong yang mencapai US$ 17,19 miliar, tumbuh 24,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tekanan terhadap surplus perdagangan juga terlihat dari kinerja kumulatif sepanjang Januari-September 2026. Dalam periode tersebut, ekspor Indonesia mencapai US$ 221,23 miliar atau tumbuh 5,58% secara tahunan.

Sebaliknya, impor melonjak 19,67% menjadi US$ 210,63 miliar.

Baca Juga: BI Prediksi Transaksi Berjalan 2026 Defisit hingga 2,4% dari PDB Akhir 2026

Alhasil, surplus perdagangan selama sembilan bulan pertama 2026 hanya mencapai US$ 10,61 miliar. Angka ini jauh menyusut dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 33,54 miliar.

Berdasarkan negara mitra, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 17,37 miliar. Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$ 10,81 miliar dan Filipina US$ 6,25 miliar.

Sebaliknya, China menjadi penyumbang defisit perdagangan nonmigas terbesar dengan nilai US$ 21,99 miliar. Disusul Australia sebesar US$ 5,43 miliar dan Prancis US$ 2,08 miliar.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan surplus perdagangan Indonesia hingga akhir 2026 hanya akan mencapai sekitar US$ 18 miliar.

Meski demikian, David menilai harga crude palm oil (CPO) dan batubara yang relatif tinggi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah masih dapat menjadi penopang ekspor Indonesia.

"Selama ketegangan di Timur Tengah masih terjadi, nilai ekspor CPO dan batubara masih akan relatif tinggi sehingga menopang surplus," ujar David, Senin (2/11/2026).

Baca Juga: Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut Jadi US$ 3 Miliar

Selain komoditas, ekspor mesin dan peralatan elektrik juga berpeluang mendukung kinerja perdagangan Indonesia. Namun, prospek ekspor produk tersebut masih bergantung pada permintaan China, terutama untuk kebutuhan panel surya, pusat data, dan kendaraan listrik.

Di sisi lain, tingginya pertumbuhan impor dibandingkan ekspor tetap menjadi tantangan utama. Jika tren tersebut berlanjut, ruang Indonesia untuk mempertahankan surplus perdagangan hingga akhir tahun akan semakin terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News