KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang Maret mencapai US$ 3,32 miliar meningkat dibandingkan Februari sebesar US$ 1,27 miliar. Capaian ini juga memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingatkan bahwa tren surplus ke depan berpotensi menyempit. Hal ini seiring dengan kenaikan harga barang impor, terutama komoditas energi seperti minyak dan gas (migas), yang dinilai lebih tinggi dibandingkan harga komoditas ekspor utama Indonesia. Menurutnya, harga komoditas ekspor seperti batubara, mineral, dan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) tidak mengalami kenaikan setinggi komoditas impor. Kondisi ini berpotensi menekan nilai surplus perdagangan.
Surplus Dagang Terancam Menyempit, Ekonom Ungkap Penyebab Utamanya
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang Maret mencapai US$ 3,32 miliar meningkat dibandingkan Februari sebesar US$ 1,27 miliar. Capaian ini juga memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingatkan bahwa tren surplus ke depan berpotensi menyempit. Hal ini seiring dengan kenaikan harga barang impor, terutama komoditas energi seperti minyak dan gas (migas), yang dinilai lebih tinggi dibandingkan harga komoditas ekspor utama Indonesia. Menurutnya, harga komoditas ekspor seperti batubara, mineral, dan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) tidak mengalami kenaikan setinggi komoditas impor. Kondisi ini berpotensi menekan nilai surplus perdagangan.
TAG: