Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Meningkat Jadi US$ 2,34 Miliar pada Maret 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca dagang Indonesia pada Maret 2026 diperkirakan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun tekanan dari sisi terms of trade masih membayangi.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual memproyeksikan surplus neraca dagang Maret 2026 mencapai US$ 2,34 miliar, naik dari realisasi Februari yang sebesar US$ 2,23 miliar.

“Surplus dagang diprediksi menguat, meski terms of trade mengecil karena harga komoditas impor lebih cepat naik dibandingkan komoditas ekspor,” ujarnya kepada Kontan.


Baca Juga: Ekonom Ini Proyeksi Inflasi Bulanan pada April Sekitar 0,43%, Terdorong Inflasi Inti

Secara rinci, ekspor diperkirakan mengalami kontraksi 1,38% secara tahunan (year on year/YoY), namun tumbuh 3,43% secara bulanan (month to month/MoM). Sementara itu, impor diproyeksikan tumbuh 8,79% YoY, namun turun 1,48% MoM.

David menjelaskan, peningkatan surplus ini turut didorong oleh permintaan dari sejumlah negara mitra dagang utama. Data menunjukkan impor dari Indonesia di beberapa negara mengalami kenaikan dibandingkan Februari, terutama di Thailand, Singapura, dan China.

Khusus untuk Tiongkok, terdapat lonjakan sekitar US$ 3 miliar pada produk crude oil. Ia menduga hal ini berkaitan dengan kapal dari Iran yang transit melalui Indonesia dan kemudian tercatat sebagai ekspor Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Batasi Penerapan Outsourcing, Buruh Minta Perlindungan Pekerja Alih Daya

"Selain itu, dari big data juga mengindikasikan adanya penguatan pada kinerja ekspor," ujar David

Di sisi lain, David menyebut impor cenderung stagnan secara bulanan. Hal ini sejalan dengan adanya faktor musiman berupa jumlah hari kerja yang lebih sedikit selama periode Lebaran, sehingga aktivitas impor relatif tertahan.

Dengan perkembangan tersebut, surplus neraca dagang diperkirakan tetap terjaga dan bahkan meningkat pada Maret 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News