KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memprediksi, surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 akan menyempit cukup tajam dibandingkan bulan sebelumnya seiring kenaikan impor yang lebih cepat dibanding ekspor. Josua memperkirakan, surplus neraca dagang April 2026 berada di kisaran US$ 1,43 miliar, lebih rendah dibanding surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar. “Jadi, arahnya bukan surplus yang makin besar, melainkan surplus yang tetap positif namun lebih tipis. Faktor utamanya adalah impor yang kembali normal setelah libur Idulfitri dan meningkatnya biaya impor minyak di tengah harga energi global yang masih tinggi,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Dari sisi ekspor, Josua melihat kinerja ekspor mulai membaik secara tahunan, meski belum terlalu kuat secara bulanan. Ekspor April 2026 diperkirakan tumbuh 9,10% secara tahunan atau
year on year (YoY), setelah pada Maret 2026 terkontraksi 3,10% YoY.
Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu Namun secara bulanan atau
month to month (mtm), ekspor diperkirakan hanya naik 0,46%. Menurutnya, perbaikan ekspor secara tahunan lebih banyak dipengaruhi basis pembanding yang rendah pada April 2025 akibat efek libur Idulfitri, bukan karena lonjakan permintaan ekspor yang signifikan. Selain itu, data perdagangan Tiongkok menunjukkan impor dari Indonesia menurun pada April setelah sempat meningkat tajam pada Maret. Hal ini menunjukkan permintaan eksternal masih perlu dicermati. “Artinya, perbaikan ekspor tahunan lebih banyak dipengaruhi oleh dasar pembanding yang rendah pada April 2025 karena efek libur Idulfitri, bukan karena lonjakan permintaan ekspor yang sangat kuat,” jelasnya. Sementara itu, tekanan terhadap surplus perdagangan dinilai lebih besar berasal dari sisi impor. Impor April 2026 diperkirakan tumbuh 2,98% yoy dan naik 10,37% mtm. Josua menilai kenaikan impor secara bulanan mencerminkan normalisasi aktivitas ekonomi setelah periode libur Idulfitri, dorongan kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas domestik masih bergerak, tetapi kebutuhan impor terutama energi dan bahan baku mulai menekan ruang surplus perdagangan.
Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu “Dengan demikian, faktor pendorong utama neraca dagang April adalah kombinasi antara ekspor yang membaik secara tahunan tetapi relatif datar secara bulanan, serta impor yang naik lebih cepat karena aktivitas ekonomi kembali normal dan harga energi meningkat,” katanya. Secara makroekonomi, Josua bilang, surplus perdagangan Indonesia masih menjadi bantalan penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, bantalan tersebut mulai menipis apabila impor terus tumbuh lebih cepat dibanding ekspor. Ia memperingatkan, apabila pola tersebut berlanjut maka tekanan terhadap transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah berpotensi meningkat.
Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan, defisit transaksi berjalan atau
current account deficit (CAD) Indonesia pada 2026 dapat melebar menjadi sekitar 1,07% terhadap produk domestik bruto (PDB), dibanding defisit 0,11% PDB pada 2025. “Terutama bila kebijakan pro-pertumbuhan meningkatkan impor sementara permintaan global belum pulih kuat,” ujar Josua. Josua juga menekankan bahwa, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas eksternal agar kenaikan impor tidak mempersempit surplus perdagangan secara berlebihan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News