KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 diproyeksi masih positif, meski cenderung menyempit dibandingkan realisasi bulan sebelumnya. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet memperkirakan, surplus neraca dagang April 2026 berada di kisaran US$ 1,5 miliar hingga US$ 2,5 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar. “Surplus neraca dagang April 2026 kemungkinan masih positif, tetapi cenderung menyempit dibanding Maret yang mencapai US$ 3,32 miliar,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang April 2026 Diprediksi Naik Menjadi US$ 3,78 Miliar Menurutnya, surplus perdagangan pada Maret 2026 cukup ditopang faktor musiman Ramadan dan Lebaran. Pada periode tersebut, eksportir biasanya mempercepat pengiriman barang sebelum libur panjang, sementara sebagian aktivitas impor tertahan akibat perlambatan ritme produksi dan logistik. Namun setelah periode Lebaran berlalu, pola perdagangan mulai berubah. Yusuf melihat impor bahan baku dan barang modal kembali meningkat untuk memenuhi kebutuhan produksi pasca libur panjang. “Karena itu tekanan dari sisi impor kemungkinan mulai terasa lagi pada April,” katanya. Menurut Yusuf, secara historis April memang kerap menjadi periode rawan bagi neraca dagang Indonesia. Yusuf mencontohkan pada April 2025 surplus perdagangan Indonesia sempat turun tajam menjadi sekitar US$ 0,15 miliar akibat lonjakan impor. “Saya tidak melihat kondisi tahun ini akan seburuk itu, tetapi kecenderungan surplus mengecil tetap cukup kuat,” ujarnya. Yusuf menilai hal yang perlu dicermati bukan hanya besar kecilnya surplus perdagangan, melainkan kualitas surplus itu sendiri. Pada Maret 2026, ekspor Indonesia justru tercatat mengalami kontraksi tahunan sekitar 3,10%, sementara impor masih tumbuh sekitar 1,51%. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan surplus perdagangan lebih banyak ditopang perlambatan impor tertentu, bukan karena pertumbuhan ekspor yang benar-benar kuat. “Kalau ditarik lebih jauh ke triwulan pertama 2026, terlihat impor tumbuh jauh lebih cepat dibanding ekspor,” katanya.
Baca Juga: Berlaku Mulai Juni, Implementasi DHE SDA dan Badan Ekspor DSI Bisa Tekan Ekspor RI Yusuf bilang, dengan impor pada kuartal I-2026 tumbuh sekitar 10% menjadi lebih dari US$ 61 miliar, sedangkan ekspor hanya meningkat tipis, hal itu menunjukkan fondasi surplus perdagangan Indonesia mulai terlihat lebih rapuh dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas dinilai masih menjadi kekuatan utama perdagangan Indonesia pada April 2026. Komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan turunannya, batu bara, besi dan baja, serta produk industri pengolahan masih menjadi penyumbang surplus terbesar. “Selama harga komoditas utama tidak jatuh terlalu dalam dan permintaan dari negara tujuan ekspor tetap terjaga, sektor-sektor ini masih mampu menjaga neraca dagang tetap surplus,” jelasnya.
Meski demikian, tekanan terhadap neraca perdagangan juga masih cukup besar. Yusuf menyoroti defisit migas yang terus menjadi beban kronis akibat tingginya impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM), terutama saat harga minyak dunia masih mahal. Selain itu, defisit perdagangan dengan China juga dinilai semakin melebar karena impor mesin, peralatan listrik, dan barang modal terus meningkat. “Jadi April kemungkinan akan menjadi pertarungan antara kuatnya ekspor komoditas melawan kenaikan impor energi dan barang modal,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News