KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca dagang pada April 2026 menyusut tajam. BPS mencatat neraca dagang pada April 2026 hanya mencatat surplus US$ 89,1 juta, lebih rendah dari surplus pada Maret 2026 sebesar US$ 3,32 miliar. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memproyeksikan surplus neraca dagang Indonesia di sepanjang tahun 2026 bakal terus menurun dibanding tahun 2025 yang mencapai US$ 41,05 miliar. Hal ini setelah surplus neraca perdagangan yang hanya sebesar US$ 0,09 miliar pada April 2026, menyempit secara signifikan dari US$ 0,20 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Surplus neraca dagang pada April 2026 berada di bawah ekspektasi pasar yang sebesar US$ 1,50 miliar dan perkiraan Samuel Sekuritas Indonesia yang sebesar US$ 170 juta.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Unit Investasi Baru Danantara, Bisa Dapat Suntikan Dana APBN Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, angka terbaru ini merupakan surplus perdagangan terkecil sejak Indonesia sempat mencatatkan defisit perdagangan pada tahap awal pandemi pada April 2020, yang menyoroti meningkatnya tekanan pada neraca eksternal Indonesia meskipun terjadi peningkatan ekspor yang signifikan. Samuel Sekuritas Indonesia menilai surplus perdagangan yang sempit memperkuat kekhawatiran mengenai posisi eksternal Indonesia. Menyusul defisit neraca transaksi berjalan yang lebih besar dari perkiraan pada kuartal pertama tahun 2026, data perdagangan April menunjukkan bahwa neraca eksternal tetap berada di bawah tekanan dari kombinasi rupiah yang lemah, impor energi yang tinggi, dan ketidakpastian global yang terus berlanjut. Oleh karena itu, memburuknya neraca perdagangan kemungkinan akan membuat para pembuat kebijakan tetap memperhatikan risiko stabilitas internal dan eksternal, terutama di tengah volatilitas yang berkelanjutan dalam nilai tukar rupiah dan pasar keuangan global. “Ke depan, kami memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan tetap surplus sepanjang tahun 2026, meskipun pada tingkat yang jauh lebih sempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang mempersulit upaya BI dalam menopang kelemahan rupiah,” ujar Harry Su dikutip dari risetnya, Rabu (3/6/2026). Samuel Sekuritas Indonesia melihat alokasi pesanan awal baru-baru ini oleh importir dan eksportir menjelang potensi gangguan perdagangan global dapat terus mendukung volume ekspor dalam jangka pendek. Dari sisi impor, permintaan kemungkinan akan tetap tinggi karena terus berlanjutnya pembelian impor barang modal, bahan baku dan bahan perantara menjelang depresiasi mata uang lokal yang cepat.
Baca Juga: Soal Pemilihan Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Begini Kata Wakil Ketua DPR Samuel Sekuritas Indonesia mencatat kisah utama di balik kinerja perdagangan bulan April adalah pemulihan ekspor yang luar biasa, yang melonjak 21,98% secara year on year (YoY), membalikkan kontraksi 3,10% yang tercatat pada bulan Maret dan menandai pertumbuhan ekspor tercepat sejak Agustus 2022.
Peningkatan ini terutama didorong oleh ekspor non-minyak dan gas, yang meningkat sebesar 23,36% YoY, didukung oleh pengiriman yang lebih kuat ke mitra dagang utama Indonesia, khususnya Amerika Serikat (+38,72%), China (+29,56%), Jepang (+10,03%), dan pasar ASEAN (+13,26%). Kinerja yang kuat menunjukkan bahwa permintaan global untuk ekspor barang manufaktur dan komoditas Indonesia tetap tangguh meskipun ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung dan perlambatan pertumbuhan di beberapa negara maju. Namun, kinerja ekspor yang positif sebagian besar diimbangi oleh percepatan impor yang bahkan lebih kuat. Total impor melonjak 22,49% YoY, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan 1,51% pada bulan Maret dan secara substansial di atas ekspektasi pasar. Yang sangat menonjol adalah lonjakan impor minyak dan gas, yang naik 85,52% YoY, mencerminkan kombinasi permintaan energi yang lebih tinggi, pembangunan kembali persediaan, dan peningkatan kebutuhan impor untuk bahan bakar dan produk minyak bumi olahan di tengah konflik Timur Tengah. Sementara itu, impor non-minyak dan gas meningkat 14,11% YoY, menunjukkan pembelian awal untuk bahan baku, barang setengah jadi, dan barang modal di tengah pelemahan tajam rupiah yang berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News