Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Cenderung Menyusut di Awal Tahun 2024



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus pada bulan pertama tahun 2024, meskipun kecenderungan surplus tersebut diperkirakan akan menyusut.

Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, surplus neraca perdagangan pada awal tahun ini sekitar US$ 3 miliar, mengalami penurunan dari surplus Desember 2023 sebesar US$ 3,31 miliar.

Josua mencatat bahwa kinerja ekspor pada Januari 2024 juga mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai ekspor diperkirakan sebesar US$ 21,80 miliar, turun 2,76% dari bulan sebelumnya. 


Baca Juga: Dua Peristiwa Ini Jadi Tantangan Pertumbuhan Nilai dan Volume Ekspor RI di Awal 2024

Sementara nilai impor Indonesia diperkirakan sebesar US$ 18,80 miliar, juga mengalami penurunan sebesar 1,62% dari bulan sebelumnya.

Menurut Josua, penurunan tersebut dipengaruhi oleh harga batubara yang menurun akibat berkurangnya permintaan dari China dan sentimen wait and see dari pebisnis dalam menghadapi pemilihan umum (pemilu) Februari 2024. Akibatnya, kegiatan investasi dan ekspansi usaha terkendala.

Dibandingkan dengan Januari 2023, nilai ekspor yang diproyeksikan oleh Josua mengalami kontraksi sebesar 2,29% year on year (yoy), juga karena penurunan harga batubara akibat berkurangnya permintaan dari Tiongkok.

Di sisi lain, nilai impor diperkirakan naik 2% yoy, karena permintaan domestik yang kuat, seperti yang terlihat pada Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang meningkat pada Januari 2024.

Baca Juga: Jelang Libur Panjang, Intip Proyeksi IHSG & Rekomendasi Saham Untuk Rabu (7/2)

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, juga memperkirakan bahwa surplus neraca perdagangan pada awal tahun 2024 akan menyusut menjadi hanya US$ 2,33 miliar. Estimasi ini dipengaruhi oleh kinerja ekspor maupun impor yang akan lebih rendah dibandingkan Desember 2023.

Menurut Andry, nilai ekspor pada Januari 2024 diperkirakan akan menurun sebesar 6,11% dari bulan sebelumnya, dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas andalan ekspor Indonesia. Harga batubara cenderung menurun, sementara harga nikel juga melemah karena suplai global berlimpah.

Meskipun demikian, Andry melihat adanya kecenderungan kenaikan volume ekspor batubara menjelang perayaan Imlek. Sementara itu, harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan naik karena kekhawatiran akan pengetatan pasokan. 

Baca Juga: Jelang Hari H Pemilu, Ini Rekomendasi Saham-Saham yang Bisa Dilirik

Di sisi lain, kinerja impor diperkirakan turun 1,90% dari bulan sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan Januari 2023, nilai impor naik 1,63% year on year (yoy), terutama didorong oleh tren kenaikan harga minyak karena impor bahan baku yang meningkat menjelang puasa dan Lebaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli