KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surplus neraca perdagangan barang Indonesia kembali tercatat positif pada Februari 2026, mencapai US$ 1,27 miliar, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 950 juta. Catatan ini menandai Indonesia telah mencatatkan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026) mengatakan bahwa surplus di Februari 2026 lebih didorong oleh surplus komoditas non migas sebesar US$ 2,19 miliar.
Meskipun demikian, angka ini turun dibandingkan Januari 2026 yang mencapai US$ 3,22 miliar. Komoditas penopang surplus non migas antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Baca Juga: Surplus Dagang Indonesia US$ 950 Juta, AS Jadi Penopang Tapi Defisit China Membengkak Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit US$ 920 juta, meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 2,27 miliar. Defisit ini sebagian besar berasal dari minyak mentah dan hasil pengolahan migas. Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari–Februari 2026 tercatat US$ 2,23 miliar, lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 6,59 miliar. BPS mencatat, Amerika Serikat (AS) menjadi mitra dagang utama yang menopang surplus Indonesia. Sepanjang Januari–Februari 2026, total surplus dengan AS mencapai US$ 3,53 miliar, dari ekspor US$ 5 miliar dan impor US$ 1,47 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus antara lain mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian rajutan, dan alas kaki.
Baca Juga: AS Jadi Penopang Surplus Dagang, Tapi Defisit dengan China hingga Singapura India dan Filipina menjadi penyumbang surplus berikutnya, masing-masing US$ 2,33 miliar dan US$ 1,50 miliar, dengan kontributor utama meliputi bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta kendaraan dan bagiannya. Di sisi lain, beberapa negara menjadi sumber defisit terbesar Indonesia, yaitu China, Australia, dan Singapura. Defisit dengan China mencapai US$ 5,23 miliar, terutama akibat impor mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan.
Defisit dengan Australia tercatat US$ 1,58 miliar, dan dengan Singapura US$ 800 juta, yang sebagian besar berasal dari impor logam mulia, mesin, dan plastik.
Baca Juga: Surplus Dagang Januari Kian Menipis Keberlanjutan surplus perdagangan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi, meski BPS mencatat tren surplus non migas mulai menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News