KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis "Survei LPEM Ahli Ekonomi Semester I-2026". Survei ini menyoroti persepsi ahli terhadap berbagai aspek, salah satunya terkait dengan ekspektasi dan penilaian ekonomi. Sampel dari survei ini terdiri dari 85 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang. Survei dilakukan dari 24 Februari hingga 9 Maret 2026 melalui platform survei online. Ini merupakan semester pertama dari survei ahli ekonomi pada 2026. Sedangkan survei tahun 2025 dijalankan pada Maret dan Oktober. Survei kali ini memotret sebagian ahli, 41 dari 85 (48%), menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini telah memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, 32 (38%) tidak melihat adanya perbaikan maupun penurunan. Kecenderungan ini menyisakan hanya 12 (14%) yang menilai kondisi saat ini membaik.
Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan, dengan skor keyakinan sebesar 7,37 dari 10. Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Maret dan Oktober 2025. "Menunjukkan bahwa setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik," tulis Materi Paparan Survei Ahli Ekonomi LPEM FEB UI yang dikutip pada Jumat (20/3/2026).
Baca Juga: Konsumsi Ramadan 2026 Meningkat, Zakat dan Parsel Jadi Pengeluaran Terbesar Di sisi lain, para ahli umumnya menilai bahwa tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia meningkat dibandingkan tiga bulan lalu. Sebagian besar, yakni 57 dari 85 ahli (67%) menilai bahwa inflasi telah meningkat. Sementara 23 (27%) melihatnya tidak berubah, dan hanya 5 (6%) yang menilai mereda. Rata-rata respons sebesar +0,71 mencerminkan kecenderungan yang jelas ke arah meningkatnya tekanan inflasi pada periode saat ini. Hasil ini merupakan sinyal yang mengkhawatirkan, karena meningkatnya tekanan inflasi berarti harga barang dan jasa semakin tinggi, yang secara bertahap menggerus daya beli masyarakat. Hasil ini menunjukkan lonjakan yang cukup berarti dari rata-rata survei sebelumnya sebesar +0,47, mengindikasikan bahwa kekhawatiran para ahli terhadap inflasi tidak hanya bertahan tetapi juga semakin menguat. Sedangkan dalam mengevaluasi kondisi pasar tenaga kerja saat ini, 30 dari 85 ahli (35%) menilai tidak berubah dibandingkan tiga bulan lalu. Namun, bobot mereka yang menganggap kondisinya semakin ketat sebesar 44 ahli (56%) cukup untuk menarik penilaian keseluruhan ke wilayah negatif, menyisakan hanya 11 (13%) yang menilai pasar tenaga kerja melonggar. Rata-rata respons sebesar -0,55 mencerminkan pasar tenaga kerja yang oleh para ahli secara umum dinilai stagnan, namun dengan kekhawatiran yang cukup berarti di baliknya. Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi pertanda meningkatnya pengangguran dan terhambatnya pertumbuhan upah, yang menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri. Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian. Di sisi yang lain, para ahli umumnya menilai lingkungan bisnis saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Porsi terbesar, 38 dari 85 (45%), menilai kondisi lebih buruk, diikuti 25 (29%) yang melihatnya tidak berubah, dan 14 (16%) yang menilainya jauh lebih buruk. Dua kategori negatif ini secara gabungan menggambarkan iklim bisnis yang suram, dengan hanya 8 (9%) yang melihat kondisi membaik. Rata-rata respons -0,67 dengan skor keyakinan yang relatif tinggi 7,66 mencerminkan kecenderungan negatif yang jelas dalam penilaian para ahli terhadap lingkungan bisnis. Hasil ini menunjukkan penurunan dari penilaian yang sempat membaik pada putaran sebelumnya (-0,45), mengonfirmasi perbaikan singkat dalam sentimen para ahli tidak bertahan lama karena kondisi kembali dinilai berada dalam lintasan menurun. Dari sisi ekspektasi mendatang, dalam tiga bulan ke depan para ahli umumnya memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi akan tetap tidak berubah dari angka terkini. Sebagian yakni 36 dari 85 ahli (42%), berbagi pandangan ini, diikuti 28 (33%) yang mengantisipasi memburuknya kondisi dan 21 (25%) yang memperkirakan perbaikan. Rata-rata respons sebesar -0,11 berada tepat di titik netral, mencerminkan ekspektasi kolektif akan stagnasi secara umum dengan kecenderungan sedikit ke bawah. Prospek pertumbuhan yang lesu umumnya mengarah pada aktivitas bisnis yang stagnan dan pengeluaran konsumen yang berhati-hati dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai catatan, angka ini mencerminkan sedikit perbaikan dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar -0,13. Meski perbedaannya sangat kecil dan tidak cukup untuk mengindikasikan pergeseran yang berarti dalam sentimen para ahli.
Baca Juga: Wajib Pajak Bisa Minta Perpanjangan Pelaporan SPT Hingga Dua Bulan, Ini Syaratnya Survei ini juga memotret bahwa para ahli secara bulat mengantisipasi tekanan inflasi akan meningkat dalam tiga bulan ke depan relatif terhadap angka terkini. Porsi dominan, yakni 64 dari 85 ahli (75%), memperkirakan tekanan akan meningkat. Sementara 18 (21%) tidak melihat perubahan, dan hanya minoritas kecil sebesar 3 (4%) yang mengantisipasi mereda. Rata-rata respons mencapai angka yang kuat sebesar 0,91 dengan skor keyakinan yang relatif tinggi sebesar 7,60, menunjukkan konsensus yang luas dan kuat bahwa inflasi akan semakin intens dalam waktu dekat. Para ahli sebagian mengaitkan prospek ini dengan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, karena gangguan pada rantai pasokan global dan pasar energi akibat konflik cenderung merambat ke tingkat harga domestik. Hasil ini menandai peningkatan yang cukup berarti dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar +0,55, mengindikasikan bahwa kekhawatiran para ahli terhadap inflasi tidak hanya bertahan tetapi juga terus berkembang. Dalam mengantisipasi kondisi pasar tenaga kerja tiga bulan ke depan, sebagian ahli yaitu 37 dari 85 (44%) memperkirakan kondisi akan tetap tidak berubah. Namun, bobot gabungan dari 39 (46%) ahli yang memperkirakan pasar semakin ketat cukup besar untuk menarik penilaian keseluruhan ke wilayah negatif secara kuat.
Baca Juga: Demi Hemat BBM, Pemerintah Akan Terapkan WFH bagi ASN dan Pekerja Swasta Hanya 9 (11%) yang memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja akan mengendur. Rata-rata respons sebesar -0,52 mencerminkan prospek pasar tenaga kerja yang meski didominasi oleh ekspektasi stagnasi, menyimpan kekhawatiran yang cukup berarti. Sementara itu, para ahli umumnya mengantisipasi lingkungan bisnis akan tetap tidak berubah dalam tiga bulan ke depan, dengan pandangan 40 dari 85 ahli (47%). Namun, porsi yang hampir sama sebesar 39 (46%) memperkirakan kondisi akan memburuk. Hanya 6 (7%) yang memperkirakan lingkungan bisnis akan membaik. Rata-rata respons sebesar -0,49 mencerminkan pola yang lebih luas dari ekspektasi yang didominasi stagnasi, namun berbobot negatif yang terlihat di sepanjang putaran survei. Angka ini menandai penurunan lebih lanjut dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar -0,28, mengindikasikan kekhawatiran para ahli terhadap lingkungan bisnis terus menumpuk ketimbang menstabil. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News