Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Bangunan Jadi Penghambat Penjualan Properti



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para pengusaha properti masih menghadapi banyak tantangan di kuartal kedua tahun ini. Kondisi tersebut terlihat dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk periode kuartal II-2026.

Berdasarkan hasil survei BI, kenaikan harga bahan bangunan menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan dan penjualan properti residensial di pasar primer pada periode tersebut. Ada sekitar 27,10% responden yang menyebut faktor kenaikan harga bahan bangunan jadi tantangan utama.

Selain itu, sebanyak 15,96% responden menilai suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi masalah utama. 14,87% responden menyebut masalah perizinan dan birokrasi sebagai tantangan utama.


Sentimen lain yang menjadi penghambat pengembangan dan penjualan properti residensial di kuartal dua adalah proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (dinyatakan 11,53% responden) dan faktor perpajakan (dinyatakan 9,75% responden).

Baca Juga: Tracon Industri Gelontorkan Rp 7,7 Miliar Perluas Warehouse & Workshop di Subang

Perlu dicatat juga, sejatinya rata-rata suku bunga KPR sudah tercatat turun. Di kuartal II-2023 silam, rata-rata suku bunga KPR sempat menembus 8,00%. Namun sejak kuartal II-2024, rata-rata suku bunga KPR bergerak relatif stabil di kisaran 7,50%.

Di kuartal II-2026, BI mencatat rata-rata suku bunga KPR berada di level 7,44%. Angka ini hanya naik tipis dibanding posisi di kuartal pertama 2026 yang sebesar 7,42% dan dibanding posisi di kuartal II-2025, yang sebesar 7,41%.

Kondisi ini membuat penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal II-2026 masih melemah. BI mencatat, penjualan properti residensial masih turun sebesar 2,36% secara tahunan.

Rinciannya, penjualan rumah tipe kecil masih terkontraksi sebesar 2,88% secara tahunan. Sementara penjualan rumah tipe menengah turun 10,51% di periode yang sama. Kendati begitu, penjualan rumah tipe besar tercatat tumbuh sebesar 13,08% secara tahunan.

Baca Juga: Survei BI: Konsumen Mulai Menahan Belanja dan Kurangi Cicilan, Porsi Tabungan Naik

Kondisi tersebut juga tergambar dari kinerja sejumlah emiten properti di paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data yang dihimpun KONTAN, mayoritas kinerja emiten properti di enam bulan pertama tahun ini masih negatif.

Salah satunya, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), yang mencatat pendapatan usaha Rp 5,19 triliun di akhir Juni 2026, turun 11,69% secara tahunan dari Rp 5,88 triliun. Alhasil, laba bersih CTRA anjlok 11,19% secara tahunan menjadi Rp 1,09 triliun di akhir semester I-2026.

Senasib, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pendapatan sebesar Rp 4,25 triliun per 30 Juni 2026, turun 7,18% secara tahunan. Dus, laba bersih SMRA terkontraksi 33,98% secara tahunan jadi Rp 332,38 miliar per semester I-2026.

Tapi tak semua emiten properti berkinerja buruk di semester I-2026. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), misalnya, berhasil mengantongi laba bersih Rp 1,68 triliun , melonjak 483,78% secara tahunan dari Rp 285,86 miliar. Kenaikan laba bersih ditopang pertumbuhan pendapatan PANI.

Baca Juga: Erajaya (ERAA) Ekspansi di Sektor F&B, Bangun Usaha Patungan dengan Oriental Coffee

Secara keseluruhan, BI mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal II-2026 membaik dibanding di kuartal I-2026. Info saja, di kuartal I-2026, penjualan properti residensial mengalami penurunan sebesar 25,67 % secara tahunan.

Pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil juga cuma turun  2,88% di kuartal II, dari 45,59% di kuartal II-2026. Sementara penjualan rumah tipe besar tercatat tumbuh 13,08% di kuartal II, dari sebelumnya terkontraksi sebesar 8,03% secara tahunan di kuartal I.

Secara triwulanan, pertumbuhan penjualan rumah pada kuartal II-2026 mencatatkan perbaikan sebesar 9,39 % secara kuartalan dari sebelumnya terkontraksi sebesar 7,69% secara kuartalan pada kuartal I-2026.

Peningkatan tersebut terutama didorong penjualan rumah tipe kecil dan besar yang mencatatkan perbaikan masing-masing sebesar 30,33% secara kuartalan dan 24,41% secara kuartalan, dari sebelumnya terkontraksi sebesar 14,68 % secara kuartalan dan 20,38% secara kuartalan.

Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah mengalami perbaikan meski masih terkontraksi sebesar 8,59% secara kuartalan, sedikit lebih kecil dari kontraksi di triwulan sebelumnya sebesar 10,72% secara kuartalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News