Survei BOJ: Sentimen Bisnis Jepang Menguat ke Level Tertinggi Sejak 2018



KONTAN.CO.ID - Kepercayaan pelaku usaha besar di Jepang meningkat pada kuartal II-2026 meski konflik di Timur Tengah sempat memicu lonjakan harga energi.

Hasil survei Bank of Japan (BOJ) menunjukkan dunia usaha masih mampu bertahan berkat kuatnya permintaan terhadap produk berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor.

Baca Juga: Boom AI Dorong Ekspor Korea Selatan Tumbuh Tercepat Sejak 1978


Mengutip Reuters, Rabu (1/7/2026), indeks utama sentimen produsen besar (Tankan Index) naik menjadi +22 pada Juni, dari +17 pada Maret. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar +16 dan menjadi level tertinggi sejak Maret 2018.

Sementara itu, indeks sentimen perusahaan besar sektor nonmanufaktur naik menjadi +37, dibandingkan +36 pada Maret. Realisasi ini juga lebih tinggi dari proyeksi pasar di level +35 dan merupakan posisi tertinggi sejak Agustus 1991.

Seorang pejabat BOJ mengatakan meski banyak perusahaan mengeluhkan kenaikan biaya bahan baku akibat perang Iran, dampak negatif tersebut berhasil diimbangi oleh tingginya permintaan terhadap produk AI dan semikonduktor.

Selain itu, sejumlah perusahaan juga mulai berhasil meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen sehingga turut memperbaiki prospek bisnis mereka.

Baca Juga: PMI Manufaktur Jepang Catat Kinerja Kuartalan Terbaik Sejak 2014 pada Juni 2026

Waspadai Kenaikan Biaya

Meski kondisi saat ini membaik, perusahaan memperkirakan situasi bisnis akan melemah dalam tiga bulan ke depan.

Pelaku usaha mengantisipasi kenaikan biaya produksi yang berlanjut serta potensi gangguan rantai pasok sebagai dampak konflik di Timur Tengah.

Survei juga menunjukkan ekspektasi inflasi korporasi semakin meningkat. Hal tersebut mengindikasikan tekanan harga mulai meluas dan berpotensi memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Iran Tolak Bertemu Utusan AS, Prospek Perdamaian Kembali Memudar

Belanja Modal Tetap Agresif

Di tengah ketidakpastian global, perusahaan-perusahaan besar Jepang tetap menunjukkan optimisme terhadap investasi.

Mereka memperkirakan belanja modal (capital expenditure) akan meningkat 11,5% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi median pasar sebesar 10,5%.

Data survei Tankan ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama BOJ dalam rapat kebijakan moneter pada 30–31 Juli 2026.

Meski bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya, BOJ juga akan merilis proyeksi terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang menjadi acuan arah kebijakan moneter ke depan.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Rabu (1/7), Yen Jepang Terpuruk ke Level Terendah dalam 40 Tahun

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Risiko

Pada Juni lalu, BOJ menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneter sekaligus untuk mengendalikan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Konflik di Timur Tengah membuat langkah BOJ menjadi lebih kompleks karena kenaikan harga minyak mendorong inflasi, tetapi pada saat yang sama menekan perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor energi.

Meski kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran sempat meredakan kekhawatiran pasar, inflasi harga grosir Jepang tetap melonjak 6,3% pada Mei, tertinggi dalam tiga tahun. Kondisi tersebut menunjukkan perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen.

BOJ juga mencatat sebagian besar responden telah mengisi survei Tankan sebelum tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada 15 Juni, sehingga sentimen pelaku usaha belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah.