Survei HSBC: 84% Manajer Keuangan Indonesia Optimistis AI Dongkrak Treasury



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebanyak 84% manajer keuangan korporasi di Indonesia memperkirakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan memberikan manfaat besar bagi pengelolaan keuangan perusahaan (treasury) dalam tiga tahun mendatang.

Angka ini jauh di atas rata-rata Asia Pasifik sebesar 72%, menurut survei HSBC bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026.

Optimisme tersebut juga tercermin dari implementasi AI di perusahaan. Survei HSBC menunjukkan, sebanyak 34% manajer keuangan korporasi di Indonesia telah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi treasury. Angka ini hampir dua kali lipat rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 17%.


Baca Juga: Bank Neo Commerce Tunjuk Christian Lesmana Jadi Dirut Gantikan Eri Budiono

Adapun perusahaan di Indonesia yang belum mengadopsi AI untuk fungsi treasury hanya sebesar 7%, lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik sebesar 19%.

Head of Global Payments Solutions Asia ex Greater China HSBC Manoj Dugar mengatakan, pembahasan mengenai AI kini telah bergeser dari sekadar eksplorasi menuju penerapan nyata di perusahaan.

“Pembicaraan mengenai AI telah bergeser dari sekadar rasa ingin tahu menjadi kapabilitas. Pembeda utamanya kini terletak pada implementasi, yaitu membenahi fondasi seperti data, tata kelola, dan kontrol, sehingga AI dapat diterapkan dalam skala lebih besar dan memberikan dampak dengan cepat,” ujar Manoj di Jakarta, Kamis (29/10).

Penerapan teknologi tersebut menjadi semakin penting di tengah volatilitas nilai tukar dan suku bunga. Pengelolaan transaksi keuangan di tengah kondisi pasar tersebut menjadi salah satu prioritas utama korporasi dalam 12 bulan mendatang, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Pasifik.

Meski optimistis terhadap manfaat AI, korporasi di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memperluas implementasinya. Sebanyak 80% responden menyebut integrasi dengan sistem yang sudah ada sebagai hambatan utama adopsi AI, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 70%.

Hambatan lainnya meliputi keterbatasan tenaga ahli dan risiko, yang masing-masing disebut oleh 40% responden. Selain itu, 33% responden menyoroti biaya implementasi, sedangkan 27% menyebut kualitas data sebagai tantangan.

Dalam mewujudkan pengelolaan keuangan secara real time, sebanyak 48% manajer keuangan di Indonesia juga menilai persetujuan anggaran untuk implementasi sistem menjadi salah satu tantangan terbesar. Sementara itu, risiko keamanan dan upaya meyakinkan pemangku kepentingan mengenai manfaat perubahan masing-masing menjadi perhatian 37% responden.

Baca Juga: Dua Direktur JTrust Bank Borong Saham BCIC, Beli di Harga Rp 110 per Saham

Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo mengatakan, perusahaan di Indonesia kini lebih berfokus pada percepatan adopsi AI dibandingkan sekadar mempertanyakan urgensi teknologi tersebut.

“Perusahaan di Indonesia tidak lagi bertanya apakah AI penting, melainkan fokus pada akselerasi adopsi AI. Bank akan semakin berperan sebagai mitra strategis dalam ekosistem manajemen keuangan perusahaan yang cerdas (intelligent treasury management), tidak lagi hanya menjadi penyedia layanan perbankan,” ujar Anne.

Seiring meningkatnya kebutuhan transaksi secara real time, keamanan siber juga menjadi perhatian dalam pengelolaan treasury. Survei HSBC menunjukkan, pembayaran (payment) dinilai sebagai transaksi treasury yang paling terpapar risiko siber, baik di Indonesia maupun di 10 dari 11 pasar Asia Pasifik yang disurvei.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, sebanyak 77% responden di Indonesia menilai perusahaan perlu meningkatkan investasi teknologi guna memperkuat keamanan transaksi. Proporsi ini jauh di atas rata-rata Asia Pasifik sebesar 57% dan menjadi yang tertinggi ketiga di kawasan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun korporasi Indonesia relatif optimistis terhadap pemanfaatan AI, keberhasilan implementasinya tetap bergantung pada kesiapan sistem, kualitas data, tata kelola, dan penguatan keamanan transaksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News