KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perusahaan di Indonesia mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan. Survei HSBC Voices of Treasury 2026 mencatat, sebanyak 84% responden menilai AI akan sangat berguna bagi operasional treasury dalam tiga tahun ke depan. Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo mengatakan, pandangan tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 93% responden mengaku telah menggunakan AI di perusahaan masing-masing.
“Di 2025, hanya sedikit perusahaan di Indonesia yang menyatakan bahwa penggunaan AI ini akan sangat berguna. Sedangkan di tahun 2026, 84% dari responden menyatakan penggunaan AI sangat berguna,” ujar Anne pada Media Briefing Survei HSBC di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Multipolar Technology (MLPT) Bidik Peluang Bisnis Orkestrasi AI di Era Frontier AI Dari responden yang disurvei, 55% menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas, sementara 34% telah memanfaatkan AI agent untuk mendorong otomatisasi pekerjaan. Anne menjelaskan, AI digunakan untuk mendukung riset, mengolah data, menyusun laporan dan presentasi, serta meninjau dokumen. Teknologi ini juga dapat membantu perusahaan mengevaluasi risiko keuangan, termasuk perubahan nilai tukar. “Seperti misalnya rupiah melemah, jadi sebaiknya jika perusahaan melakukan impor, apakah sebaiknya perusahaan membeli mata uang atau melakukan hedging, atau memberikan informasi juga mengenai proyeksi ke depannya seperti apa,” jelasnya. Dalam proses penjualan, AI dapat membantu memeriksa kesesuaian invoice, surat jalan, dan dokumen pendukung sebelum penagihan. Pada proses pembayaran, teknologi tersebut dapat memastikan kelengkapan dokumen tagihan dan bukti penerimaan sebelum perusahaan mengambil keputusan. Pemanfaatan ini sejalan dengan prioritas treasury untuk 12 bulan ke depan. Menurut survei HSBC, pengelolaan keuangan di tengah volatilitas ekonomi menjadi perhatian utama responden, disusul penggunaan teknologi baru untuk mentransformasi alur kerja keuangan. Anne menyebut, kesiapan perusahaan berbeda-beda, mulai dari yang masih menggunakan spreadsheet, pembukuan manual, dan dokumen fisik hingga yang telah mengandalkan sistem digital terintegrasi. Kualitas dan penyimpanan data turut menentukan efektivitas penerapannya. Basis data yang tidak akurat atau tersebar di berbagai lokasi dapat menyulitkan AI dalam menghasilkan analisis dan rekomendasi yang berguna.
Baca Juga: GoTo Luncurkan Ekosistem AI Lewat Model 27 Miliar Parameter Selain itu, perusahaan juga menghadapi tantangan keamanan data, keterbatasan tenaga ahli, serta penentuan tanggung jawab atas keputusan yang didukung teknologi tersebut. “AI bisa melakukan analisa, bisa melakukan rekomendasi, bisa melakukan review, tapi orang tetap berperan penting dari sisi pengambilan keputusan,” kata Anne. Untuk memulai penerapan AI, Anne menyarankan perusahaan memanfaatkan teknologi tersebut secara bertahap, misalnya untuk riset dan membandingkan sejumlah opsi sebelum memperluas penggunaannya ke proses operasional lainnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News