Survei Invesco: SWF dan Bank Sentral Dunia Mulai Ragukan Masa Depan Dolar AS



KONTAN.CO.ID - Dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) dan bank sentral yang mengelola aset senilai US$29 triliun mulai mengubah strategi investasi mereka.

Temuan tersebut berasal dari survei terbaru perusahaan manajemen investasi global Invesco terhadap 90 sovereign wealth fund dan 54 bank sentral yang dipublikasikan pada Senin (29/6).

Sebanyak 80% responden menilai investasi pada sektor keamanan energi dan infrastruktur transisi energi merupakan pilihan paling efektif untuk meningkatkan ketahanan portofolio mereka.


Laporan tersebut juga mencatat bahwa alokasi investasi sovereign wealth fund pada sektor infrastruktur telah meningkat hingga mencapai 9% dari total aset pada 2026.

Kepala Riset Invesco Benjamin Jones mengatakan investor global kini mulai menyesuaikan strategi investasinya dengan kondisi dunia yang semakin tidak menentu.

"Di tengah guncangan inflasi, fragmentasi geopolitik, dan pasar yang semakin terkonsentrasi, investor mulai memikirkan kembali asumsi lama mengenai diversifikasi dan mendesain ulang portofolio agar mampu menghadapi lebih banyak kemungkinan," kata Jones, seperti dikutip Reuters.

Menurutnya, ketahanan portofolio kini telah menjadi kebutuhan utama bagi investor, bukan lagi sekadar nilai tambah.

Baca Juga: Harga Minyak Naik usai Serangan Balasan AS-Iran Senin (29/6), Brent ke US$ 72,51

Performa Dolar AS Mulai Diragukan

Selain memperbesar investasi di sektor energi, tren diversifikasi juga mendorong meningkatnya minat terhadap aset safe haven seperti emas.

Survei Invesco menunjukkan sekitar sepertiga responden berencana menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi risiko investasi.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap prospek jangka panjang dolar AS juga semakin meningkat.

Sebanyak 61% bank sentral dalam survei tersebut menilai tingginya utang AS dapat melemahkan posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia dalam jangka panjang. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan 20% pada 2024.

Banyak analis memperkirakan tingginya utang pemerintah AS dan ketidakpastian kebijakan ekonomi dapat membatasi penguatan dolar dalam jangka panjang.

Survei itu juga menunjukkan 29% responden memperkirakan status dolar AS sebagai mata uang cadangan global akan melemah dalam lima tahun ke depan. Persentase tersebut meningkat dari 12% pada 2022.

Baca Juga: Perusahaan Teknologi Asal China Momenta Global Akan IPO, Incar Dana US$ 751 Juta

Bank Sentral Kurangi Ketergantungan Dolar

Laporan Invesco juga mengungkapkan bahwa sejumlah bank sentral mulai mengevaluasi ketergantungan mereka terhadap lembaga kustodian aset, mitra transaksi, hingga sistem kliring yang berbasis di AS.

Salah satu bank sentral di Eropa mengaku telah mengganti kustodian berbasis di AS dengan penyedia dari negara lain.

Sementara itu, sebuah bank sentral di Amerika Latin menyatakan tengah membangun hubungan dengan kustodian non-AS sebagai langkah antisipasi apabila kondisi geopolitik global semakin memburuk.

Namun, salah satu responden mengingatkan bahwa langkah tersebut juga memiliki konsekuensi diplomatik.

"Langkah itu sendiri dapat ditafsirkan sebagai tindakan yang tidak bersahabat oleh Amerika Serikat," ujar salah satu bank sentral yang mengikuti survei.

Baca Juga: Iran dan AS Sepakat Hentikan Serangan dan Melanjutkan Perundingan Damai