KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali merilis hasil survei terkait ketahanan dunia usaha pada kuartal II-2026. Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan, hasil survei menunjukkan sentimen dunia usaha pada kuartal II 2026 masih mengalami pelemahan dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan fiskal menjadi perhatian utama pelaku usaha.
“Hasil kuartal II menunjukkan sentimen bisnis masih melemah dibandingkan kuartal I. Konsen utama pelaku usaha adalah pelemahan rupiah dan kepastian kebijakan fiskal pemerintah,” ujar Fakhrul dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: Realisasi Investasi Rp 1.010,6 Triliun pada Semester I, Capai 49,5% dari Target 2026 Meski demikian, Fakhrul melihat optimisme pelaku usaha mulai membaik seiring meredanya risiko geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah. Menurutnya, pelaku usaha yang berorientasi ekspor mulai melihat adanya peluang perbaikan kondisi pasar internasional. “Pelaku usaha mulai lebih optimistis melihat perkembangan global karena risiko perang di Timur Tengah sudah lebih rendah dibandingkan kuartal I. Perusahaan yang berorientasi ekspor mulai merasakan ada
upside dari kondisi ini,” katanya. Dari sisi operasional, pelemahan rupiah dinilai memberikan tekanan terbesar terhadap kenaikan biaya usaha. Pada saat yang sama, pelaku usaha juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan margin keuntungan karena belum dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen yang daya belinya masih terbatas. “Yang paling menjadi perhatian adalah kenaikan biaya operasional akibat pelemahan rupiah. Di sisi lain, pelaku usaha belum bisa sepenuhnya meneruskan kenaikan harga bahan baku karena daya beli masyarakat belum terlalu membaik,” ujarnya. Berdasarkan hasil survei tersebut, Kadin Indonesia Institute menilai terdapat empat langkah prioritas yang perlu menjadi perhatian pemerintah untuk membangun kembali optimisme dunia usaha, yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memberikan kepastian regulasi, menghadirkan arah kebijakan fiskal yang jelas, serta meningkatkan daya beli masyarakat melalui dorongan fiskal yang kuat dan kredibel. Ia juga berharap berbagai ketidakpastian regulasi, terutama yang berkaitan dengan sektor komoditas unggulan, dapat segera diselesaikan agar tidak mengganggu kinerja ekspor maupun neraca berjalan Indonesia.
Baca Juga: Dana Kopdes Merah Putih Disorot, Pengadaan Kipas Angin Rp 1,8 Triliun Dipertanyakan “Kalau dari dunia usaha tentu harapannya secepatnya. Ketidakpastian regulasi, terutama yang terkait komoditas unggulan, harus segera diselesaikan karena dapat mengganggu ekspor dan memberi tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain Direktur Eksekutif Kadin Indonesia Institute Mulya Amri menegaskan, pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah, kepastian arah kebijakan, serta penyederhanaan birokrasi mengingat ketiga hal tersebut menjadi sumber tekanan sekaligus harapan utama pelaku usaha di tengah pelemahan sentimen bisnis. Selain itu, dukungan afirmatif seperti kemudahan akses pembiayaan perlu diarahkan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) yang paling rentan. Sosialisasi ICA-CEPA juga perlu diperluas agar manfaat perjanjian tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh dunia usaha. "Temuan Business Pulse Q2-2026 menegaskan bahwa dunia usaha Indonesia tengah menghadapi tekanan berlapis, mulai dari pelemahan rupiah, birokrasi, hingga minimnya pemahaman atas peluang kerja sama baru seperti ICA-CEPA. Tugas kita bersama adalah memastikan kepastian kebijakan hadir lebih cepat dari tekanan yang dirasakan pelaku usaha, sekaligus memperluas sosialisasi agar peluang seperti ICA-CEPA benar-benar dapat dimanfaatkan, khususnya oleh usaha kecil dan menengah yang paling rentan,” pungkas Mulya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News