KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persepsi para ahli ekonomi terhadap kondisi perekonomian Indonesia pada periode tiga bulan terakhir kembali memburuk dibandingkan periode kuartal sebelumnya. Hal ini tercermin dalam Survei Ahli Ekonomi yang dilakukan LPEM UI pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026. Survei ini melibatkan 85 ahli ekonomi dari beragam latar belakang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, serta berasal dari sejumlah negara seperti Australia, Inggris, Belanda, Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok. Mayoritas responden merupakan akademisi dari universitas dalam negeri (51%) dan luar negeri (20%), disusul peneliti dari lembaga penelitian (15%), sektor swasta (7%), organisasi multinasional (6%), serta think tanks (1%).
Hasil survei menunjukkan, hampir separuh responden menilai kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibandingkan periode sebelumnya. “Sebagian besar ahli, 41 dari 85 (48%), menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini telah memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya,” demikian hasil survei tersebut, dikutip Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: Jadi Tulang Punggung Perekonomian, Konsumsi RT Hanya Tumbuh 4,89% Sepanjang 2025 Sementara itu, 32 responden (38%) menilai tidak ada perubahan, dan hanya 12 responden (14%) yang melihat adanya perbaikan. Secara keseluruhan, rata-rata respons tercatat sebesar -0,39 dengan tingkat keyakinan 7,37 dari 10. “Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan,” tulis laporan itu. Bahkan, tren ini konsisten dengan survei sebelumnya pada Maret dan Oktober 2025, yang menunjukkan persepsi negatif belum juga berbalik dalam 18 bulan terakhir. Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pandangan pesimistis tersebut. Dalam tiga bulan terakhir, mayoritas ahli menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia meningkat signifikan. Sebagian besar, yakni 57 dari 85 ahli (67%), menilai bahwa inflasi telah meningkat, dengan rata-rata penilaian inflasi mencapai +0,71 yang mencerminkan kecenderungan yang jelas ke arah meningkatnya tekanan inflasi pada periode semester I-2026. “Ini merupakan sinyal yang mengkhawatirkan, karena meningkatnya tekanan inflasi berarti harga barang dan jasa semakin tinggi, yang secara bertahap menggerus daya beli masyarakat Indonesia,” tulis laporan tersebut.
Baca Juga: Pengamat: Kunci Perkuat Rupiah Ada pada Kemampuan Pemerintah Menarik FDI Masuk ke RI Kenaikan ini juga lebih tinggi dibandingkan survei sebelumnya sebesar +0,47, dengan skor keyakinan relatif tinggi sebesar 7,60 dari 10. Di sisi lain, para ahli ekonomi juga menilai pasar tenaga kerja masih belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Rata-rata respons sebesar -0,55 mencerminkan pasar tenaga kerja yang oleh para ahli secara umum dinilai stagnan namun dengan kekhawatiran yang cukup berarti di baliknya. Sementara mayoritas ahli, yakni sebanyak 44 responden (56%) menilai pasar tenaga kerja semakin ketat, sementara 30 responden (35%) menyebut tidak berubah, dan hanya 11 responden (13%) yang melihat pelonggaran. Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya dinilai berpotensi menekan pendapatan rumah tangga melalui peningkatan pengangguran dan tertahannya pertumbuhan upah. “Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian,” tulis laporan itu. Penilaian terhadap lingkungan bisnis juga menunjukkan tren negatif. Para ahli umumnya menilai lingkungan bisnis saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Tercatat sebanyak 38 responden (45%) menilai kondisi lebih buruk, 25 responden (29%) tidak berubah, dan 14 responden (16%) menilai jauh lebih buruk. Rata-rata respons sebesar -0,67 dengan skor keyakinan 7,66 menegaskan tekanan pada iklim usaha.
Baca Juga: PMI Manufaktur Oktober Meroket, Purbaya Klaim Berhasil Mengembalikan Perekonomian “Hasil ini menunjukkan penurunan dari penilaian yang sempat membaik pada putaran sebelumnya, mengonfirmasi bahwa perbaikan singkat dalam sentimen para ahli tidak bertahan lama,” tulis laporan tersebut. Secara umum, persepsi terhadap kondisi ekonomi, pasar tenaga kerja, dan lingkungan bisnis relatif stabil dibandingkan survei sebelumnya, meski tetap berada di zona negatif. Namun, inflasi menjadi indikator yang paling menonjol perubahannya. “Para ahli semakin meyakini bahwa tekanan inflasi terus meningkat belakangan ini, dengan hasil statistik yang signifikan mencerminkan keyakinan yang kuat di antara mereka,” demikian hasil survei. Ke depan, para ahli memproyeksikan kondisi yang belum banyak berubah.
“Pertumbuhan ekonomi diproyeksi tetap tidak berubah seperti kuartal sebelumnya, sementara tekanan inflasi terhadap perekonomian diprediksi meningkat signifikan,” tulis laporan tersebut. Sementara kondisi pasar tenaga kerja dan lingkungan bisnis juga diperkirakan masih akan stagnan dalam waktu dekat.
Baca Juga: BI: Tren Prospek Perekonomian Global Melambat, Ketidakpastian Pasar Keuangan Tinggi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News