Survei LPEM UI: Perekonomian RI ke Depan Stagnan Cenderung Memburuk, Inflasi Melonjak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspektasi para ahli ekonomi terhadap kondisi perekonomian Indonesia dalam tiga bulan ke depan cenderung stagnan, dengan kecenderungan sedikit memburuk. Hal ini tercermin dalam Survei Ahli Ekonomi yang dilakukan LPEM UI pada 24 Februari hingga 9 Maret 2026.

Berdasarkan hasil Survei Ahli Ekonomi tersebut, sebanyak 36 dari 85 responden (42%) menilai pertumbuhan tidak akan berubah, sementara 28 responden (33%) memperkirakan kondisi memburuk, dan 21 responden (25%) melihat adanya potensi perbaikan.

“Rata-rata respons sebesar -0,11 berada tepat di titik netral, mencerminkan ekspektasi kolektif akan stagnasi secara umum dengan kecenderungan sedikit ke bawah,” tulis survei tersebut, Selasa (17/3/2026).


Baca Juga: BI Pastikan Siaga 24 Jam Jaga Rupiah Saat Libur Lebaran 2026

Dengan hasil skor keyakinan sebesar 7,47 dari 10 menunjukkan masih adanya ketidakpastian di kalangan para ahli. Prospek pertumbuhan yang lesu ini dinilai berpotensi berdampak pada aktivitas bisnis yang cenderung stagnan serta pola konsumsi masyarakat yang lebih berhati-hati dalam beberapa bulan ke depan.

Meski sedikit membaik dibandingkan survei sebelumnya (-0,13), perubahan tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk mengubah sentimen secara keseluruhan.

Di sisi lain, tekanan inflasi justru diproyeksikan meningkat signifikan. Mayoritas responden, yakni 64 dari 85 ahli (75%), memperkirakan inflasi akan naik dalam tiga bulan ke depan. Sebanyak 18 responden (21%) menilai tidak berubah, dan hanya 3 responden (4%) yang memperkirakan inflasi mereda.

“Rata-rata respons mencapai 0,91 dengan skor keyakinan 7,60, menunjukkan konsensus yang luas bahwa inflasi akan semakin intens dalam waktu dekat,” tulis laporan tersebut.

Para ahli mengaitkan prospek ini dengan ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan pasar energi, sehingga mendorong kenaikan harga di dalam negeri. Angka ini juga meningkat cukup tajam dari survei sebelumnya sebesar +0,55.

Baca Juga: BI Ungkap Alasan Lengkap Pertahankan BI Rate di Tengah Gejolak Konflik Timur Tengah

Sementara itu, ekspektasi terhadap pasar tenaga kerja cenderung memburuk. Sebanyak 37 responden (44%) memperkirakan kondisi tidak berubah, namun 39 responden (46%) menilai pasar tenaga kerja akan semakin ketat. Hanya 9 responden (11%) yang memperkirakan adanya perbaikan.

Rata-rata respons sebesar -0,52 mencerminkan kekhawatiran yang semakin dalam terhadap kondisi ketenagakerjaan. Angka ini lebih rendah dibandingkan survei sebelumnya (-0,38), yang menunjukkan meningkatnya tekanan di pasar tenaga kerja. Skor keyakinan berada di level 7,46.

Ekspektasi terhadap lingkungan bisnis juga menunjukkan pola serupa. Sebanyak 40 responden (47%) memperkirakan kondisi tidak berubah, namun hampir seimbang dengan 39 responden (46%) yang melihat kondisi akan memburuk. Hanya 6 responden (7%) yang memperkirakan perbaikan.

Rata-rata respons sebesar -0,49 mencerminkan ekspektasi yang didominasi stagnasi namun berbobot negatif. Penilaian ini juga memburuk dibandingkan survei sebelumnya (-0,28), dengan skor keyakinan 7,57.

Secara keseluruhan, ekspektasi para ahli dalam tiga bulan ke depan relatif stabil dibandingkan survei sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap stagnan, sementara pasar tenaga kerja dan lingkungan bisnis cenderung sedikit lebih negatif meski tidak signifikan secara statistik.

Namun, tekanan inflasi menjadi pengecualian utama. Para ahli ekonomi menilai tekanan inflasi akan melonjak signifikan, tercermin dari penilaian responden melompat dari +0,55 menjadi +0,91 dan signifikan secara statistik pada tingkat 1%.

"Ini menandakan bahwa para ahli secara aktif merevisi antisipasi inflasi mereka menjadi semakin tinggi dengan keyakinan yang kuat,” tulis laporan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News