Survei NAB: Aktivitas Bisnis Australia Stabil Februari 2026, Namun Optimisme Melemah



KONTAN.CO.ID - Kondisi bisnis di Australia tercatat stabil pada Februari 2026, meskipun sentimen pelaku usaha melemah dan kembali masuk ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam hampir setahun terakhir. Hal ini terjadi di tengah kenaikan biaya pinjaman.

Survei yang dirilis oleh National Australia Bank pada Selasa (10/3/2026) menunjukkan, indeks kondisi bisnis bertahan di level +7, sejalan dengan rata-rata jangka panjang.

Namun, indikator kepercayaan bisnis yang cenderung lebih volatil turun 5 poin menjadi -1.


Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Rebound 3% Selasa (10/3), G7 Bergerak Stabilkan Pasar Energi

Indikator penjualan tercatat naik tipis 1 poin menjadi +12, menunjukkan aktivitas penjualan yang relatif solid.

Sementara itu, indeks keuntungan tetap di +4, sedangkan indikator ketenagakerjaan sedikit melemah ke +3.

Analis dari National Australia Bank menyebut penurunan kepercayaan bisnis kemungkinan mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha setelah kenaikan suku bunga pada Februari.

“Kepercayaan bisnis kini berada di wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun, kemungkinan mencerminkan kehati-hatian setelah kenaikan suku bunga pada Februari,” tulis analis NAB.

Pada Februari lalu, bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia, menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,85%, kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir, sebagai upaya menekan tekanan inflasi yang masih bertahan.

Survei tersebut juga menunjukkan biaya tenaga kerja dan biaya input kembali meningkat pada Februari. Sementara itu, pertumbuhan harga ritel secara kuartalan naik menjadi 1,0%, dari sebelumnya 0,3%.

Baca Juga: Trump: AS Akan Hantam Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Tutup Selat Hormuz

Di sisi lain, terdapat kabar positif dari rencana investasi bisnis yang meningkat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Pesanan ke depan juga melonjak tiga kali lipat hingga mencapai indeks +6, yang memberi sinyal positif terhadap permintaan di masa mendatang.

Survei ini dilakukan pada periode 23 Februari hingga 2 Maret, sehingga hanya menangkap dampak awal dari meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga energi global.