Survei Reuters/Ipsos: Kepuasan Publik Terhadap Trump Anjlok ke 35% Akibat Perang Iran



KONTAN.CO.ID - Tingkat kepuasan publik (approval rate) terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump tertahan di posisi terendah sepanjang karier politiknya.

Merosotnya popularitas ini terjadi seiring dengan mayoritas warga AS yang memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan terus melambung tinggi akibat dampak perang dengan Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Naik Senin (8/6): Brent ke US$ 94,25 & WTI ke US$ 91,30


Berdasarkan survei Reuters/Ipsos yang selesai dilakukan pada Senin (8/6/2026), sebanyak 35% responden menyatakan, puas terhadap kinerja Trump di Gedung Putih. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan survei Reuters/Ipsos pada pertengahan Mei lalu.

Tingkat persetujuan tersebut hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan level terendah masa jabatan keduanya, yakni 34% pada April 2026. Angka itu juga mendekati rekor terendah selama masa jabatan pertamanya yang tercatat sebesar 33% pada Desember 2017.

Trump menghadapi ketidakpuasan publik yang cukup luas dalam beberapa bulan terakhir, terutama terkait keputusannya terlibat dalam konflik dengan Iran yang memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap biaya hidup.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan di US$ 4.334 Senin (8/6), Meski Data Tenaga Kerja AS Kuat

Meskipun harga bensin di sejumlah wilayah AS mulai sedikit melandai dalam beberapa pekan terakhir seiring harapan berakhirnya konflik, sebanyak 59% responden meyakini harga BBM akan semakin tinggi dalam satu tahun ke depan.

Hanya 17% yang memperkirakan harga bensin akan turun, sementara sisanya menyatakan tidak yakin atau memperkirakan harga akan tetap stabil.

Seperti diketahui, Trump memerintahkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu bersama sekutu AS, Israel.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang mengganggu aktivitas pelayaran di jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Meski intensitas serangan mulai menurun sejak April, hingga kini pembicaraan damai belum menghasilkan kesepakatan permanen.

Baca Juga: Trump Klaim Iran dan Israel Tengah Upayakan Gencatan Senjata Kembali

Persetujuan Rendah pada Isu Biaya Hidup

Survei tersebut juga menunjukkan hanya 22% warga AS yang menyetujui cara Trump menangani persoalan biaya hidup rumah tangga. Sebaliknya, sebanyak 70% responden menyatakan tidak puas terhadap kebijakan pemerintah dalam mengendalikan biaya hidup.

Tingkat kepuasan tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan yang diterima mantan Presiden AS Joe Biden pada akhir masa jabatannya.

Saat meninggalkan Gedung Putih, Biden mencatat tingkat persetujuan 29% terkait penanganan biaya hidup dan tingkat ketidakpuasan sebesar 63%.

Isu inflasi yang tinggi selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang membebani Partai Demokrat pada Pemilu Presiden 2024 dan turut membantu kemenangan Trump atas Kamala Harris.

Baca Juga: Meski Rugi Membesar, VinFast Genjot Ekspansi EV ke Indonesia, Asia Tenggara & India

Saat kampanye, Trump berjanji akan menekan inflasi. Namun tingginya harga energi dan bahan bakar saat ini dinilai menjadi tantangan besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.

Survei juga mencatat sebanyak 36% responden mendukung serangan militer AS ke Iran. Namun hanya 25% yang menilai manfaat operasi militer tersebut lebih besar dibandingkan biaya dan risikonya.

Dalam simulasi pemilihan Kongres apabila digelar saat ini, sebanyak 41% pemilih terdaftar menyatakan akan memilih kandidat Partai Demokrat, sementara 37% memilih Partai Republik.

Keunggulan Partai Republik dalam isu ekonomi juga mulai menipis. Sebanyak 37% responden menilai Partai Republik memiliki rencana ekonomi yang lebih baik, hanya unggul tipis dibandingkan Partai Demokrat yang memperoleh dukungan 36%.

Survei Reuters/Ipsos dilakukan secara daring terhadap 4.531 responden dewasa di seluruh AS dengan margin of error sekitar 2 poin persentase.