KONTAN.CO.ID - LONDON. Pertumbuhan aktivitas bisnis sektor swasta Inggris kehilangan momentum pada September 2026. Di tengah perlambatan pertumbuhan manufaktur dan jasa, tekanan inflasi justru meningkat akibat kenaikan biaya energi, bahan bakar dan bahan baku. Ini terlihat dari data awal PMI Komposit Inggris periode September 2026, yang dipublikasikan S&P Global, Rabu (23/9/2026). Data awal PMI Komposit tercatat ada di level 51,7 pada September, turun dari 52,5 pada Agustus. Indeks tersebut menunjukkan laju pertumbuhan terlemah dalam tiga bulan terakhir. Pertumbuhan aktivitas sektor swasta Inggris telah memasuki bulan ketiga berturut-turut. Namun, laju ekspansi terus melemah karena momentum di sektor manufaktur dan jasa sama-sama berkurang.
Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi. “Sementara kepercayaan bisnis yang lemah dan tingginya biaya terus menghambat perekrutan,” kata Williamson, dalam rilis pers, Rabu (23/9/2026). Di sektor jasa, kondisi ekonomi domestik yang lemah dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang membatasi pertumbuhan aktivitas. Meski demikian, sejumlah perusahaan kembali melaporkan peningkatan permintaan untuk layanan teknologi.
Baca Juga: Bisnis AS Tumbuh Tercepat dalam Lima Tahun, Tekanan Inflasi Kembali Menguat Sementara itu, produksi manufaktur masih meningkat, tetapi lajunya merupakan yang paling lambat sejak periode ekspansi saat ini dimulai pada April. Investasi AI dan peningkatan belanja pertahanan disebut menjadi faktor yang mendukung produksi manufaktur. Sedangkan lemahnya permintaan konsumen menjadi hambatan pertumbuhan. Pelemahan permintaan juga terlihat dari total pekerjaan baru di sektor swasta. Total pekerjaan baru turun tipis pada September. Penurunan terutama disebabkan oleh kembali melemahnya volume bisnis baru di sektor jasa. Responden survei mengaitkan kondisi tersebut dengan lemahnya kepercayaan bisnis dan konsumen, sebagian karena tekanan terhadap pengeluaran barang di luar kebutuhan pokok. Penjualan ekspor sektor swasta Inggris juga mengalami penurunan moderat pada September. Kontraksi semakin cepat dan mencapai laju tercepat sejak Juni. Pelemahan terutama terjadi di sektor jasa.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Level Tertinggi 2 Bulan, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Di sektor manufaktur, pesanan ekspor juga turun meski hanya tipis. Ini merupakan penurunan pertama sejak Desember 2025 dan kerap dikaitkan dengan melemahnya penjualan kepada klien di Uni Eropa. Perlambatan aktivitas ekonomi turut tercermin pada pasar tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja turun pada September, menandai dua tahun berturut-turut terjadinya penurunan lapangan kerja. Berbeda dengan jasa, lapangan kerja di sektor manufaktur meningkat untuk bulan keenam berturut-turut. Kenaikan tersebut antara lain didorong oleh peningkatan
backlog pekerjaan dengan laju tercepat sejak Januari 2022. Di sisi harga, tekanan inflasi semakin kuat. Beban biaya rata-rata perusahaan sektor swasta meningkat tajam dan semakin cepat, dengan tingkat inflasi mencapai level tertinggi dalam tiga bulan.
Tekanan biaya input meningkat baik di sektor manufaktur maupun jasa. Harga bahan bakar menjadi faktor yang paling sering disebut oleh responden, sementara sejumlah perusahaan juga melaporkan kenaikan harga energi, tenaga kerja dan bahan baku, terutama tembaga dan baja.
Baca Juga: Harga Jet Fuel Naik, Ryanair Tak Akan Naikkan Harga Tiket Kenaikan biaya tersebut kemudian mendorong perusahaan menaikkan harga jual. Harga yang dikenakan perusahaan sektor swasta meningkat dengan laju yang kuat dan semakin cepat, sehingga tingkat inflasi harga jual mencapai level tertinggi sejak Juni. Williamson mengatakan perlambatan pertumbuhan tersebut membuat prospek ekonomi menjadi semakin rumit karena terjadi bersamaan dengan tingginya biaya dan tekanan harga. “Pertumbuhan output dalam survei manufaktur dan jasa telah melambat ke laju yang konsisten dengan ekonomi hanya tumbuh 0,1% secara kuartalan,” imbuh Williamson.