Survei StanChart: Perusahaan Global Lihat Ruang Besar untuk Pembiayaan Yuan



KONTAN.CO.ID - Perusahaan global menilai masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan pembiayaan dalam mata uang yuan, sebuah tren yang berpotensi mendukung upaya China memperluas penggunaan mata uangnya di tingkat internasional.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru dari Standard Chartered yang dirilis Rabu (11/3/2026). Bank yang berbasis di London tersebut melakukan survei terhadap 300 klien korporasi di negara maju maupun negara berkembang.

Hasil survei menunjukkan eksposur utang perusahaan dalam yuan masih tertinggal dibandingkan eksposur pendapatan atau biaya mereka terhadap mata uang tersebut.


Baca Juga: IEA Usulkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar untuk Redam Lonjakan Harga

Banyak perusahaan juga memperkirakan penggunaan pembiayaan yuan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Sekitar seperempat responden yang sudah memiliki eksposur terhadap yuan menyatakan berencana meningkatkan pembiayaan dalam yuan, baik di pasar domestik China maupun di pasar offshore, dalam tiga tahun ke depan.

Secara keseluruhan, sekitar 31% perusahaan yang disurvei memperkirakan pembiayaan dalam yuan akan tetap stabil atau meningkat.

Dalam laporan tersebut, Standard Chartered menyebut bahwa di berbagai sektor, eksposur pendapatan dalam mata uang yuan melalui aktivitas penjualan, pengadaan, dan rantai pasok lebih besar dibandingkan eksposur utang dalam mata uang yang sama.

Baca Juga: Serangan Terbesar Hantam Iran, Pasar Tetap Bertaruh Perang Segera Berakhir

“Ketidakseimbangan ini menunjukkan adanya pemanfaatan pembiayaan yuan yang secara struktural masih kurang optimal,” tulis laporan tersebut.

Survei dilakukan melalui undangan email kepada klien korporasi antara Desember hingga Januari.

Selama beberapa tahun terakhir, China berupaya mendorong yuan menjadi mata uang yang lebih luas digunakan dalam perdagangan dan pembiayaan global. Meski berangkat dari basis yang relatif kecil, pasar utang dalam denominasi yuan terus berkembang pesat.

Penggunaan yuan dalam sistem pembayaran global juga meningkat. Namun, menurut data dari SWIFT, pangsa yuan dalam pembayaran global masih sekitar 3%, jauh di bawah dominasi dolar AS yang mencapai sekitar 50%.

Baca Juga: Maskapai Asia dan Eropa Ramai-Ramai Menaikkan Harga Tiket Akibat Konflik Iran-AS

Laporan Standard Chartered juga mencatat bahwa permintaan penggunaan yuan berbeda-beda di setiap wilayah. Di Asia Tenggara, adopsi yuan banyak didorong oleh aktivitas rantai pasok. Sementara di Timur Tengah dan sebagian wilayah Afrika, penggunaan yuan lebih banyak terkait dengan perdagangan energi dan proyek infrastruktur.