Surya Esa Perkasa (ESSA) Meraih Laba Bersih US$ 66,90 Juta di Semester I-2022



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) meraih laba bersih US$ 66,90 juta di semester pertama 2022. Realisasi ini membalikkan keadaan dimana ESSA menanggung kerugian senilai US$ 10,72 juta di periode yang sama tahun lalu.

Mengutip laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (27/7), kenaikan laba bersih ini tidak terlepas dari kenaikan topline. ESSA melaporkan pendapatan sebesar US$ 351 juta. Jumlah ini melesat naik 153% dari realisasi pendapatan di periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 138.93 juta

Secara rinci, penjualan ESSA didominasi oleh penjualan amoniak sebesar US$ 323.18 juta, disusul penjualan LPG senilai US$ 25,98 juta, dan pendapatan dari Jasa pengolahan senilai US$ 1,77 juta


Sementara, penjualan yang melebihi 10% dari penjualan bersih terjadi kepada Genesis Corporation senilai US$ 323.18 juta dan kepada PT Pertamina Patra Niaga senilai US$ 25,98 juta.

Baca Juga: Kinerja Surya Esa (ESSA) Naik di Kuartal I-2022, Ditopang Kenaikan Harga Amoniak

Presiden Direktur PT Surya Esa Perkasa Tbk Vinod Laroya menyatakan, ini merupakan pendapatan tertinggi yang pernah diraih ESSA. Selain pendapatan yang naik, EBITDA milik ESSA juga tercatat naik 183% secara year-on-year (yoy) menjadi US$ 171 juta  sepanjang semester pertama 2022 berkat operasi yang kuat dan kondisi pasar yang menguntungkan.

Laroya mengatakan, pasar komoditas global mengalami kenaikan harga yang tajam seiring dengan ekspektasi pemulihan global yang tengah berlangsung. Di sisi lain, harga tetap tinggi karena kendala pasokan yang terus berlanjut akibat dari krisis Rusia-Ukraina.

Dia menyebut, harga realisasi amoniak mengalami lonjakan 145% yoy menjadi US$ 908 per metrik ton (MT), sementara harga liquified petroleum gas (LPG) naik 50% YoY menjadi US$ 821 per MT untuk semester pertama 2022.

Harga amoniak di Amerika Serikat (AS) dan Eropa mulai melonjak sejalan dengan meningkatnya permintaan pasca pandemi sejak kuartal keempat 2021. Semakin terbatasnya pasokan gas di Eropa membuat harga tetap tinggi yang kemudian berdampak langsung pada biaya produksi amoniak.

Sejalan dengan harga global, harga amoniak di Asia telah stabil pada tingkat yang lebih tinggi yaitu sekitar  US$ 1.000 per MT.

“Peningkatan pendapatan yang luar biasa berkat keunggulan operasional yang konsisten, yang didukung oleh harga amoniak dan LPG yang lebih tinggi,” terang Laroya, Rabu (27/7).

Baca Juga: Simak Jadwal Pembayaran Dividen Surya Esa Perkasa (ESSA)

Di sisi lain, ESSA telah memanfaatkan posisi kas lebih tinggi untuk mengurangi beban utang dengan tujuan membuat neraca lebih kuat dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 1,1 kali

Ke depan, ESSA tetap optimistis dengan peluang pertumbuhan baru di industri hilir gas seiring munculnya Blue Ammonia sebagai alternatif bahan bakar rendah karbon yang seirama dengan meningkatnya kepedulian terhadap keberlanjutan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi