Surya Semesta Internusa (SSIA) Optimistis Suku Bunga Tinggi Tak Ganggu Kinerja



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) tetap optimistis mampu menjaga kinerja bisnisnya di tengah era suku bunga tinggi. Perseroan yakin kondisi tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap bisnis utamanya, terutama penjualan lahan industri yang masih didorong oleh minat investor asing.

Sebagai informasi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) saat ini berada di level 5,5%. Kendati demikian, manajemen SSIA melihat tingginya suku bunga belum menjadi hambatan utama bagi aktivitas investasi di kawasan industri yang dikelolanya.

VP of Investor Relations & Corporate Communications SSIA, Erlin Budiman, menjelaskan bahwa mayoritas calon penyewa atau tenant perusahaan berasal dari luar Indonesia sehingga kebijakan suku bunga domestik tidak terlalu memengaruhi keputusan investasi mereka.


“Namun tenant yang masuk mungkin akan lebih terbatas terutama tenant yang terkait dengan sektor konsumer akan cenderung berkurang karena adanya kekhawatiran pelemahan konsumsi masyarakat di tengah sedang meningkatnya suku bunga saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: IRSX Masuk Ekosistem GOTO Untuk Perluas Distribusi Streaming Piala Dunia 2026

Di sisi lain, Erlin mengakui bahwa bisnis hotel bintang tiga milik SSIA, yakni BATIQA, berpotensi mengalami sedikit tekanan akibat kenaikan suku bunga dan melemahnya daya beli masyarakat. Namun demikian, kontribusi segmen hotel bintang tiga terhadap total pendapatan perseroan masih relatif kecil sehingga dampaknya dinilai terbatas.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah justru dinilai dapat membuka peluang tambahan bagi perseroan, terutama dari sisi keuntungan selisih kurs serta peningkatan daya tarik bagi wisatawan asing.

“Rupiah melemah juga bisa menjadi peluang akibat adanya kenaikan selisih kurs. Penjualan lahan industri maupun penjualan kamar hotel bintang lima kami ke turis mancanegara melalui penjualan daring mereka,” ungkapnya.

Subang Smartpolitan Tetap Jadi Andalan SSIA

Pada tahun 2026, kawasan industri Subang Smartpolitan masih menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis SSIA. Menurut Erlin, permintaan terhadap kawasan tersebut hingga kini masih didominasi oleh investor asal Asia dibandingkan investor dari Eropa maupun Amerika Serikat.

“Di tengah dinamika yang terjadi di global dan di dalam negeri permintaan dari sektor juga tetap beragam, mengingat Indonesia memiliki kapabilitas dan pasar yang cukup menarik pada saat ini,” katanya.

Perseroan juga tetap optimistis target marketing sales atau pendapatan prapenjualan sepanjang 2026 dapat tercapai sesuai rencana.

“Kami juga melihat peningkatan marketing sales akan lebih banyak terjadi di semester kedua seiring dengan membaiknya konflik di Timur Tengah saat ini,” paparnya.

 
SSIA Chart by TradingView

Penjualan Lahan Industri Melonjak pada Kuartal I 2026

Kinerja penjualan lahan industri SSIA menunjukkan tren positif pada awal tahun. Melalui PT Suryacipta Swadaya (SCS), perseroan membukukan penjualan pemasaran lahan industri seluas 8,2 hektare dengan nilai mencapai Rp 169,1 miliar dari kawasan Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan sepanjang kuartal I 2026.

Realisasi tersebut melonjak 105% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat penjualan 4 hektare senilai Rp 88 miliar.

Hingga kuartal I 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp 727,4 miliar yang merepresentasikan 46,3 hektare lahan. Dari total tersebut, sebanyak 35,6 hektare telah dibukukan pada April 2026 dengan nilai mencapai Rp 524,1 miliar.

Pendapatan dan Laba Bersih SSIA Meningkat

Dari sisi kinerja keuangan, PT Surya Semesta Internusa Tbk berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 1,44 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut meningkat 35% dibandingkan pendapatan Rp 1,07 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tak hanya itu, perseroan juga berhasil membalikkan kinerja menjadi positif dengan mencatat laba bersih sebesar Rp 89,01 miliar pada kuartal I 2026. Capaian tersebut berbanding terbalik dibandingkan kuartal I 2025 ketika SSIA masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 21,70 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News