BOOMING konglomerasi di Indonesia pada awal 1990 telah memukau Susanti Alie. Ia yang ketika itu belum genap berusia 15 tahun, langsung menancapkan tekadnya menjadi seorang pebisnis yang sukses. Bagi Susanti, menjadi pengusaha bukan cuma menjanjikan kelimpahan materi, tapi juga kebebasan. Namun Susanti tak langsung merintis cita-citanya itu. Selepas kuliah, ia malah memilih menjadi orang gajian. Kondisi ini terus berlangsung hingga lima tahun lalu usaha sambal milik ayahnya oleng dan nyaris gulung tikar. Melihat bisnis ayahnya hampir bangkrut, Susanti pun mengambil kendali. Boleh dibilang ini keputusan paling edan yang pernah dibuat Susanti. Maklum, waktu itu ia sedang berada di puncak karier. Sementara kondisi usaha keluarga yang akan dia teruskan memprihatinkan. Selain pasarnya tak berkembang, sistem produksinya pun masih tradisional. Tapi justru kondisi ini lah yang menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi Susanti mewujudkan mimpi masa remajanya menjadi seorang pengusaha sukses. Anak ketiga dari lima bersaudara ini pun memulai kembali bisnis sambal keluarganya itu dari awal. Modalnya kala itu hanya sebuah truk tua peninggalan bisnis ayahnya dan peralatan memasak seadanya. "Kondisi waktu itu sangat sulit" tutur perempuan 33 tahun ini. Susanti pun mencari celah pasar yang bisa dia masuki. Dia lalu membuat gebrakan dengan mengemas saos sambal dalam kemasan kantong isi ulang. Untuk menjalankan strategi ini, dia hanya perlu membeli satu mesin packaging. Ide membuat saos isi ulang ini muncul akibat keterbatasan modal itu ternyata berbuah manis. Area distribusi produknya pun terus meluas. "Selain itu, saya bisa menghemat biaya, karena sistem distribusi jadi lebih simpel," kata Susanti. produknya lebih praktis. Usaha Susanti pun terus berkembang pesat, dari sekadar usaha rumahan, dia membangun pabrik di Cileungsi, Jawa Barat pada 2007. Dia pun memapankan nama PT Bersama Olah Boga sebagai bendera usahanya. Setelah membuka pabrik, Susanti langsung mengembangkan produknya. Ia membuat dua merek lain, yakni Soka dan BOB. Selain dalam kemasan isi ulang, untuk merek tertentu, dia juga mengemas sambal buatannya dalam botol plastik dan saset. Selain membangun pabrik, Susanti juga mendirikan laboratorium sendiri. Dari uji lab tersebut ia hendak mengedukasi masyarakat bahwa produknya terbuat dari cabe asli dan tanpa pewarna. Berkat berbagai langkah tersebut, pemasaran sambal buatan Susanti terus meluas dan kini sudah menjangkau seluruh nusantara. Jumlah karyawannya yang semula hanya 10 orang, kini sudah lebih dari 100 orang. Omzetnya pun naik menjadi ratusan juta rupiah per bulan. Perjuangan Susanti menyelamatkan usaha orang tuanya hingga menjadi usaha yang sehat dan sukses, berbuah penghargaan. Ia masuk 30 besar nominasi penerima Indonesia Young Entrepreneur Award yang diadakan British Council pada Juni 2009. Jeli Melihat Peluang Susanti Alie meraih sukses di bisnis sambal kemasan berkat kejeliannya melihat peluang dan kemampuannya mengatasi banyak tantangan. Mulai dari ditipu rekan bisnis, beredarnya isu negatif mengenai produknya, hingga persaingan harga yang tak sehat di pasar. Keputusan Susanti meninggalkan karirnya sebagai marketing excecutive di sebuah perusahaan fasyen asing di Jakarta sekitar empat tahun lalu, tak pernah disesalinya. Maklum, dia telah berhasil menjadi pengusaha sambal cabe yang cukup punya nama. Susanti meninggalkan pekerjaan lamanya itu karena mencintai keluarganya. "Saya sedih melihat usaha yang dijalankan orangtua saya hampir runtuh," kenangnya. Dia tak mau usaha, yang telah dijalankan ayahnya selama 20 tahun dan telah membuatnya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, itu gulung tikar. Anak ketiga dari lima bersaudara ini pun mengambil alih usaha ayahnya. Karena saat itu keempat saudaranya yang lain menetap di luar negeri, ia pun membenahi perusahaan keluarganya itu sendirian. Dalam tempo dua bulan, setelah mempelajari kelemahan usaha orangtuanya selama ini, dia langsung rombak strategi. Susanti mengemas produk sambal cabenya dalam kemasan isi ulang. Saat itu, cabe dalam kemasan isi ulang termasuk hal baru dan dan di luar kebiasaan produsen sambal. "Pertimbangan lainnya, dengan kemasan itu produk lebih higienis, pendistribusian lebih mudah, dan hemat modal," tutur penyuka traveling ini. Meski pasar menyambut baik terobosan ini, bukan berarti Susanti tak menemui kendala. Misalnya, dia harus menghadapi persaingan tidak sehat dari kompetitor. Bahkan, di suatu daerah tertentu, produknya pernah diisukan tidak sesuai ketentuan kesehatan dan berbahaya. Padahal, ia sudah memiliki izin Departemen kesehatan dan memenuhi semua ketentuan, termasuk uji laboratorium. Menghadapi masalah itu, "Saya positive thingking, lebih banyak melakukan perbaikan internal, dan giat melakukan kampanye kepada konsumen tentang produk kami," kata Susanti.Kendala lain yang dihadapinya adalah ditipu mitra kerjanya. Susanti merugi karena ketidakjujuran beberapa distributor dan toko yang mengambil barang dari pabriknya. Namun, Susanti tidak kapok. Baginya, dunia bisnis sangat dinamis. Masalah pasti ada dan semua harus bisa diselesaikan. Susanti berprinsip, daripada mengutuki masalah mendingan belajar dari orang sukses, membaca buku, dan mendengarkan masukan dari pebisnis yang juga pernah gagal. Berkat prinsipnya itu plus kejeliannya dan kerja kerasnya, Susanti berhasil mengangkat usaha keluarganya dari tubir kebangkrutan. Bahkan, dalam kelolaan tangan dinginnya, sambal merek Cabe Payung warisan orang tuanya terkenal, dan kini sudah pasarkan dihingga ke seluruh Nusantara. Tak cepat puas, Susanti mulai melakukan ekspansi. Di awal tahun ini, dia mengeluarkan dua merek baru, yakni Soka untuk semua kalangan, dan BOB yang khusus membixdik pasar industri dan pabrik. Susanti merasa, makin hari tanggung jawabnya semakin besar. Maklum, kini lebih dari seratus karyawan bergantung pada langkahnya. Padahal empat tahun lalu, ketika mengambil alih usaha, ia hanya dibantu beberapa pegawai. Menambah Kapasitas Produksi Kini Susanti telah memiliki tiga brand untuk produk sambalnya. Ketiganya pun lumayan sukses di pasar Tanah Air. Toh, Susanti Alie tak cepat merasa puas. Pemilik PT Bersama Olah Boga ini sudah punya sederet rencana untuk mengembangkan bisnis sambal cabe warisan ayahnya. Untuk jangka pendek, lulusan LCCI Shelton School of Commerce, Singapore, ini menargetkan, tahun depan seluruh produk sambalnya sudah dipasarkan di ritel-ritel modern di Indonesia. Untuk itu, selain menyiapkan modal untuk menambah kapasitas produksi pabriknya di Cileungsi, Susanti juga melakukan edukasi pasar. Ia ingin mengenalkan produknya sebagai sambal yang menggunakan bahan baku cabe asli dan tanpa pewarna buatan. Susanti mengenalkan produknya dengan cara yang berbeda dengan kompetitor. "Misalnya, kami bikin desain untuk cap atau kemasannya dengan format kartun, supaya menarik dan lain dari biasa," ujarnya. Ia juga akan lebih menonjolkan perbedaan-perbedaan yang lain pada rasa dan bentuk produk. "Nanti sambal buatan kami akan tetap mempertahankan biji dan kulit cabai. Kami memang ingin menunjukkan keaslian bahan baku yang digunakan," kata Susanti dengan gaya berpromosi. Kalau target memajang produk di ritel modern sudah terwujud, Susanti siap meluncurkan varian baru. "Ke depan kemungkinan kami akan kembangkan variasi atau inovasi sambal lainnya. Sambal organik salah satu yang akan kami buat," paparnya. Sejatinya, Susanti punya mimpi lebih besar. Ia punya cita-cita menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan makanan yang besar dengan beragam produk. Sebelum melangkah ke tahap itu, perempuan yang kini aktif di perkumpulan Indonesia Young Entrepreneur (IYe) ini akan memfokuskan diri di bisnis sambal. Menurutnya, dalam berbisnis sebaiknya fokus dulu pada satu usaha dan dikembangkan semaksimal mungkin. "Karena untuk mengembangkan satu perusahaan kan perlu modal besar dan pemusatan pikiran untuk berinovasi," imbuhnya. Kalaupun berkecimpung di bisnis lain, selama usaha sambalnya belum maju dan mapan benar, Susanti hanya sekadar membantu. Itulah yang ia lakukan di Sandy Utama Tour, sebuah perusahaan travelling di Jakarta. Bisnis yang ia geluti sejak setahun lalu ini hanya berupa inbound tour atau mengorganisir grup tur asing yang berkunjung ke dalam negeri. "Itupun saya hanya sebagai organizer saja," katanya. Susanti bilang, dia menggeluti usaha ini untuk menyalurkan hobi travelling-nya. Dalam menjalankan usahanya, Susanti berprinsip terus maju. Baginya, perusahaan tak boleh mengalami kemunduran. Harus ada tren naik, baik dari sisi SDM, omzet, dan etos kerja. Karena itu, Susanti selalu mengamalkan satu prinsip dalam hidupnya. "Pantang menyerah dan tetap berpikiran kreatif dan positif," pungkas perempuan cantik ini sembari tersenyum.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Susanti Alie, Sukses Bisnis Sambal Cabe
BOOMING konglomerasi di Indonesia pada awal 1990 telah memukau Susanti Alie. Ia yang ketika itu belum genap berusia 15 tahun, langsung menancapkan tekadnya menjadi seorang pebisnis yang sukses. Bagi Susanti, menjadi pengusaha bukan cuma menjanjikan kelimpahan materi, tapi juga kebebasan. Namun Susanti tak langsung merintis cita-citanya itu. Selepas kuliah, ia malah memilih menjadi orang gajian. Kondisi ini terus berlangsung hingga lima tahun lalu usaha sambal milik ayahnya oleng dan nyaris gulung tikar. Melihat bisnis ayahnya hampir bangkrut, Susanti pun mengambil kendali. Boleh dibilang ini keputusan paling edan yang pernah dibuat Susanti. Maklum, waktu itu ia sedang berada di puncak karier. Sementara kondisi usaha keluarga yang akan dia teruskan memprihatinkan. Selain pasarnya tak berkembang, sistem produksinya pun masih tradisional. Tapi justru kondisi ini lah yang menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi Susanti mewujudkan mimpi masa remajanya menjadi seorang pengusaha sukses. Anak ketiga dari lima bersaudara ini pun memulai kembali bisnis sambal keluarganya itu dari awal. Modalnya kala itu hanya sebuah truk tua peninggalan bisnis ayahnya dan peralatan memasak seadanya. "Kondisi waktu itu sangat sulit" tutur perempuan 33 tahun ini. Susanti pun mencari celah pasar yang bisa dia masuki. Dia lalu membuat gebrakan dengan mengemas saos sambal dalam kemasan kantong isi ulang. Untuk menjalankan strategi ini, dia hanya perlu membeli satu mesin packaging. Ide membuat saos isi ulang ini muncul akibat keterbatasan modal itu ternyata berbuah manis. Area distribusi produknya pun terus meluas. "Selain itu, saya bisa menghemat biaya, karena sistem distribusi jadi lebih simpel," kata Susanti. produknya lebih praktis. Usaha Susanti pun terus berkembang pesat, dari sekadar usaha rumahan, dia membangun pabrik di Cileungsi, Jawa Barat pada 2007. Dia pun memapankan nama PT Bersama Olah Boga sebagai bendera usahanya. Setelah membuka pabrik, Susanti langsung mengembangkan produknya. Ia membuat dua merek lain, yakni Soka dan BOB. Selain dalam kemasan isi ulang, untuk merek tertentu, dia juga mengemas sambal buatannya dalam botol plastik dan saset. Selain membangun pabrik, Susanti juga mendirikan laboratorium sendiri. Dari uji lab tersebut ia hendak mengedukasi masyarakat bahwa produknya terbuat dari cabe asli dan tanpa pewarna. Berkat berbagai langkah tersebut, pemasaran sambal buatan Susanti terus meluas dan kini sudah menjangkau seluruh nusantara. Jumlah karyawannya yang semula hanya 10 orang, kini sudah lebih dari 100 orang. Omzetnya pun naik menjadi ratusan juta rupiah per bulan. Perjuangan Susanti menyelamatkan usaha orang tuanya hingga menjadi usaha yang sehat dan sukses, berbuah penghargaan. Ia masuk 30 besar nominasi penerima Indonesia Young Entrepreneur Award yang diadakan British Council pada Juni 2009. Jeli Melihat Peluang Susanti Alie meraih sukses di bisnis sambal kemasan berkat kejeliannya melihat peluang dan kemampuannya mengatasi banyak tantangan. Mulai dari ditipu rekan bisnis, beredarnya isu negatif mengenai produknya, hingga persaingan harga yang tak sehat di pasar. Keputusan Susanti meninggalkan karirnya sebagai marketing excecutive di sebuah perusahaan fasyen asing di Jakarta sekitar empat tahun lalu, tak pernah disesalinya. Maklum, dia telah berhasil menjadi pengusaha sambal cabe yang cukup punya nama. Susanti meninggalkan pekerjaan lamanya itu karena mencintai keluarganya. "Saya sedih melihat usaha yang dijalankan orangtua saya hampir runtuh," kenangnya. Dia tak mau usaha, yang telah dijalankan ayahnya selama 20 tahun dan telah membuatnya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, itu gulung tikar. Anak ketiga dari lima bersaudara ini pun mengambil alih usaha ayahnya. Karena saat itu keempat saudaranya yang lain menetap di luar negeri, ia pun membenahi perusahaan keluarganya itu sendirian. Dalam tempo dua bulan, setelah mempelajari kelemahan usaha orangtuanya selama ini, dia langsung rombak strategi. Susanti mengemas produk sambal cabenya dalam kemasan isi ulang. Saat itu, cabe dalam kemasan isi ulang termasuk hal baru dan dan di luar kebiasaan produsen sambal. "Pertimbangan lainnya, dengan kemasan itu produk lebih higienis, pendistribusian lebih mudah, dan hemat modal," tutur penyuka traveling ini. Meski pasar menyambut baik terobosan ini, bukan berarti Susanti tak menemui kendala. Misalnya, dia harus menghadapi persaingan tidak sehat dari kompetitor. Bahkan, di suatu daerah tertentu, produknya pernah diisukan tidak sesuai ketentuan kesehatan dan berbahaya. Padahal, ia sudah memiliki izin Departemen kesehatan dan memenuhi semua ketentuan, termasuk uji laboratorium. Menghadapi masalah itu, "Saya positive thingking, lebih banyak melakukan perbaikan internal, dan giat melakukan kampanye kepada konsumen tentang produk kami," kata Susanti.Kendala lain yang dihadapinya adalah ditipu mitra kerjanya. Susanti merugi karena ketidakjujuran beberapa distributor dan toko yang mengambil barang dari pabriknya. Namun, Susanti tidak kapok. Baginya, dunia bisnis sangat dinamis. Masalah pasti ada dan semua harus bisa diselesaikan. Susanti berprinsip, daripada mengutuki masalah mendingan belajar dari orang sukses, membaca buku, dan mendengarkan masukan dari pebisnis yang juga pernah gagal. Berkat prinsipnya itu plus kejeliannya dan kerja kerasnya, Susanti berhasil mengangkat usaha keluarganya dari tubir kebangkrutan. Bahkan, dalam kelolaan tangan dinginnya, sambal merek Cabe Payung warisan orang tuanya terkenal, dan kini sudah pasarkan dihingga ke seluruh Nusantara. Tak cepat puas, Susanti mulai melakukan ekspansi. Di awal tahun ini, dia mengeluarkan dua merek baru, yakni Soka untuk semua kalangan, dan BOB yang khusus membixdik pasar industri dan pabrik. Susanti merasa, makin hari tanggung jawabnya semakin besar. Maklum, kini lebih dari seratus karyawan bergantung pada langkahnya. Padahal empat tahun lalu, ketika mengambil alih usaha, ia hanya dibantu beberapa pegawai. Menambah Kapasitas Produksi Kini Susanti telah memiliki tiga brand untuk produk sambalnya. Ketiganya pun lumayan sukses di pasar Tanah Air. Toh, Susanti Alie tak cepat merasa puas. Pemilik PT Bersama Olah Boga ini sudah punya sederet rencana untuk mengembangkan bisnis sambal cabe warisan ayahnya. Untuk jangka pendek, lulusan LCCI Shelton School of Commerce, Singapore, ini menargetkan, tahun depan seluruh produk sambalnya sudah dipasarkan di ritel-ritel modern di Indonesia. Untuk itu, selain menyiapkan modal untuk menambah kapasitas produksi pabriknya di Cileungsi, Susanti juga melakukan edukasi pasar. Ia ingin mengenalkan produknya sebagai sambal yang menggunakan bahan baku cabe asli dan tanpa pewarna buatan. Susanti mengenalkan produknya dengan cara yang berbeda dengan kompetitor. "Misalnya, kami bikin desain untuk cap atau kemasannya dengan format kartun, supaya menarik dan lain dari biasa," ujarnya. Ia juga akan lebih menonjolkan perbedaan-perbedaan yang lain pada rasa dan bentuk produk. "Nanti sambal buatan kami akan tetap mempertahankan biji dan kulit cabai. Kami memang ingin menunjukkan keaslian bahan baku yang digunakan," kata Susanti dengan gaya berpromosi. Kalau target memajang produk di ritel modern sudah terwujud, Susanti siap meluncurkan varian baru. "Ke depan kemungkinan kami akan kembangkan variasi atau inovasi sambal lainnya. Sambal organik salah satu yang akan kami buat," paparnya. Sejatinya, Susanti punya mimpi lebih besar. Ia punya cita-cita menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan makanan yang besar dengan beragam produk. Sebelum melangkah ke tahap itu, perempuan yang kini aktif di perkumpulan Indonesia Young Entrepreneur (IYe) ini akan memfokuskan diri di bisnis sambal. Menurutnya, dalam berbisnis sebaiknya fokus dulu pada satu usaha dan dikembangkan semaksimal mungkin. "Karena untuk mengembangkan satu perusahaan kan perlu modal besar dan pemusatan pikiran untuk berinovasi," imbuhnya. Kalaupun berkecimpung di bisnis lain, selama usaha sambalnya belum maju dan mapan benar, Susanti hanya sekadar membantu. Itulah yang ia lakukan di Sandy Utama Tour, sebuah perusahaan travelling di Jakarta. Bisnis yang ia geluti sejak setahun lalu ini hanya berupa inbound tour atau mengorganisir grup tur asing yang berkunjung ke dalam negeri. "Itupun saya hanya sebagai organizer saja," katanya. Susanti bilang, dia menggeluti usaha ini untuk menyalurkan hobi travelling-nya. Dalam menjalankan usahanya, Susanti berprinsip terus maju. Baginya, perusahaan tak boleh mengalami kemunduran. Harus ada tren naik, baik dari sisi SDM, omzet, dan etos kerja. Karena itu, Susanti selalu mengamalkan satu prinsip dalam hidupnya. "Pantang menyerah dan tetap berpikiran kreatif dan positif," pungkas perempuan cantik ini sembari tersenyum.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News